Teleskop dioperasikan langsung oleh siswa KIR, khususnya dari bidang Inovasi dan Teknologi (I-Tek) yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dasar mengenai astronomi dan pengoperasian peralatan observasi.

“Mereka bukan hanya menyaksikan, tetapi terlibat langsung mengatur fokus teleskop, menentukan sudut pandang, hingga mengambil gambar,” jelas Fatmila.

Saat fase totalitas berlangsung, perubahan warna Bulan menjadi kemerahan tampak jelas melalui teleskop. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi para siswa, terlebih sebelumnya mereka juga telah melaksanakan sholat khusuf.

Fatmila menambahkan, kegiatan observasi ini memberikan berbagai manfaat bagi siswa, mulai dari memperdalam pemahaman konsep gerhana secara langsung, melatih kesabaran dalam proses pengamatan, hingga menumbuhkan kerja sama tim.

Menurutnya, fenomena gerhana yang terjadi di bulan Ramadan juga menjadi pengingat bahwa sains dan keimanan dapat berjalan beriringan.

Ke depan, pihak madrasah berharap kegiatan astronomi semacam ini dapat terus dikembangkan sebagai sarana edukasi berbasis observasi nyata, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga masyarakat luas.

“Kami ingin menunjukkan bahwa peserta didik MAN 1 HST dibina secara serius di bidang sains tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,” pungkasnya.(wartabanjar.com/Adew)

editor: nur_muhammad