Di masa lalu, banyak perempuan Indonesia berpakaian terbuka, namun karena mereka sudah menjadi muallaf dan ketika salat wajib menutup aurat, sehingga harus ada pakaian khusus untuk itu yang menutup aurat sesuai syarat sah ibadah.

Kemudian Sarifah Bagdad menciptakan rancangan mukena tersebut yang dulu hanya berupa selembar kain putih yang dijahitnya sendiri.

Seiring dengan kian meluasnya ajaran Islam, mukena juga makin viral hingga ke berbagai wilayah Nusantara sampai kemudian dijadikan pakaian wajib oleh para muslimah Indonesia saat salat.

Bukit tempat dia mengajarkan ilmu dahulu saat ini dikenal sebagai Komplek Ziarah Makam Sunan Gunung Djati.

Dulunya, bukit tersebut bernama pesambangan atau amparan jati, sehingga ia juga dikenal sebagai Nyai Mas Penata Gama Pesambangan.

Selain dikenalkan kepada perempuan, dia juga menjahit sendiri mukena tersebut.

Dulunya, mukena hanya sepotong kain dan berwarna putih.

"Jauh sebelum ada jilbab, mukena ini dikenalkan oleh beliau. Konon mukena ini hanya dikenal di Indonesia, terlebih Cirebon merupakan pusat penyabaran agama Islam di Nusantara," kata Chaidir.

BACA JUGA: HEBOH! Sosok Diduga Kuyang Terbang di Langit Malam Pal 21 Banjarbaru

Melalui pendekatan yang terus dilakukan, masyarakat menerima ajaran fikih yang diajarkan Nyai Mukena.

"Karena para wali pun kan membawa ajaran Islam melalui pendekatan perilaku karena masyarakat Jawa saat itu sudah memiliki budaya yang tinggi. Dari situlah kenapa misalnya Sunan Gunung Djati mendirikan masjid itu tidak menggunakan Bahasa Arab," tambahnya.

Melalui perilaku dan budaya itu, tanpa sadar masyarakat akhirnya terbawa dalam ajaran Islam dan menerapkannya.

Makam Nyai Mukena, kata Chaidir, ada di dekat sekitar makam Sunan Gunung Djati, tepatnya di pintu kedua setelah makam utama Sunan Gunung Djati. (wartabanjar.com/berbagai sumber)

Editor: Yayu