“Itu diputuskan oleh para tetua agama dan tokoh adat dan saya juga hadir sebagai raja saat isbat Ramadhan itu,” jelasnya.

Ia mengakui sempat terjadi perbedaan pandangan dalam musyawarah, namun akhirnya disepakati bersama.

“Itu keputusannya mengikat semua warga, jadi semua warga terima dan mematuhinya,” ujarnya.

Perbedaan Awal Puasa Jadi Tradisi Lokal yang Tetap Dijaga

Fenomena puasa lebih awal ini menunjukkan adanya tradisi lokal yang masih kuat di beberapa desa di Maluku. Meski berbeda dengan keputusan pemerintah pusat, masyarakat tetap menjalankannya dengan penuh kekompakan berdasarkan kesepakatan adat dan tokoh agama setempat.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad