AC Milan Dinilai Perlu “Reset” Usai Era Berlusconi, Ini Kata Maikel Oettle
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – AC Milan kembali menjadi sorotan setelah Chief Commercial Officer (CCO) klub, Maikel Oettle, mengungkapkan bahwa Rossoneri perlu melakukan reset menyeluruh setelah berakhirnya era kepemimpinan Silvio Berlusconi. Pernyataan ini disampaikan Oettle saat berbicara di sebuah acara di Hamburg, Jerman, akhir pekan lalu.
Era kepemimpinan Berlusconi di AC Milan dikenal sebagai salah satu periode paling gemilang dalam sejarah klub, di mana Milan meraih berbagai gelar domestik dan internasional. Namun, menurut Oettle, setelah Berlusconi melepas saham klub pada 2017, kondisi internal Milan mengalami penurunan manajemen yang signifikan.
“Kami berada dalam posisi yang sangat kuat karena kami mewakili klub dengan sejarah luar biasa. Namun setelah era Berlusconi, klub ini dikelola dengan buruk sehingga kami harus melakukan sesuatu yang baru,” ujar Oettle dalam kesempatan tersebut.
Fokus Utama Reset Milan
Menurut Oettle, reset yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan sepak bola di lapangan, tetapi juga menyentuh aspek manajemen, inovasi, dan pendekatan bisnis klub. Klub disebut harus membuka diri terhadap praktik terbaik (best practices) dari luar industri sepak bola untuk dapat bersaing kembali dengan tim-tim top Eropa.
“Praktik terbaik biasanya tidak berasal dari industri kita sendiri, tetapi dari bidang lain merekrut talenta baru, melihat persoalan dengan cara berbeda dan bermitra dengan merek yang membawa inovasi dan nilai tambah,” tambah Oettle.
Upaya Modernisasi dan Pembangunan Stadion
Selain itu, dalam pernyataannya di Hamburg, Oettle ikut menyinggung soal kebutuhan modernisasi fasilitas klub, termasuk pembangunan stadion baru di area San Siro yang ditunggu-tunggu. Meskipun proyek tersebut telah mencapai beberapa kemajuan, prosesnya dinilai berjalan lambat karena berbagai kendala perizinan di Italia.
Rencana pembangunan stadion baru juga menjadi bagian dari strategi Milan untuk memperkuat posisi komersial dan daya tarik global, mengingat peran penting fasilitas modern dalam bisnis sepak bola masa kini.
Tantangan Milan Setelah Berlusconi