WARTABANJAR.COM - Gelombang pembatalan tiket untuk ajang sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2026, mengejutkan publik global.
Laporan sejumlah media menyebut setidaknya sekitar 16.800 penggemar membatalkan pesanan tiket mereka dalam satu malam sebagai bentuk protes terhadap sejumlah kebijakan yang terkait dengan negara tuan rumah turnamen ini — terutama Amerika Serikat.

Apa yang Terjadi?

Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, diprediksi menjadi edisi terbesar dalam sejarah kompetisi. Namun, bukan hanya antusiasme yang muncul — gelombang pembatalan tiket dan seruan boikot juga menyebar luas di berbagai komunitas sepak bola internasional.

Menurut laporan yang beredar, ribuan fans memilih menarik diri dari proses pemesanan dan pembelian tiket — khususnya pada fase undian untuk tiket terpilih — lantaran kekhawatiran atas situasi politik, kebijakan imigrasi dan keamanan di Amerika Serikat.

Kekhawatiran Utama Fans

Beberapa alasan yang dikemukakan pengamat dan fans antara lain:

Kebijakan imigrasi yang ketat dan pembatasan visa terhadap warga dari beberapa negara yang dinilai dapat menghambat kemampuan suporter untuk hadir langsung di stadion.

Kekhawatiran soal keselamatan dan iklim politik di AS yang dianggap kurang nyaman atau bahkan berpotensi berisiko bagi warga asing yang ingin bepergian ke sana.

Seruan boikot semakin menguat di media sosial di tengah kampanye yang menargetkan AS sebagai tuan rumah utama.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa banyak laporan menyebutkan pembatalan ini terjadi pada fase pemesanan tiket (seperti pengunduran diri dari sistem undian atau cancel order tiket yang belum dibayar), bukan pembatalan tiket yang sudah resmi dibeli dan dibayar penuh. Hal ini karena secara aturan FIFA umumnya tidak mengizinkan pengembalian dana untuk tiket yang telah terjual.

Seruan Boikot Semakin Menguat