WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Tanah Laut mengambil langkah strategis dengan mempertemukan pengelola program gizi dan penyedia pangan lokal dalam forum Business Matching.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berbenturan dengan ketersediaan stok pangan di pasar masyarakat, Rabu (24/12/2025).

Agenda yang berlangsung di Aula Sarantang Seruntung ini merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi kondisi ekonomi daerah pada awal Desember.

Baca Juga INGAT! Mulai 2 Januari 2026 Memaki Teman “Anjing” atau “Babi” Bisa Dipenjara 6 Bulan, Begini Penjelasannya

Pemerintah daerah berupaya menyusun peta distribusi pangan yang lebih efisien agar lonjakan permintaan bahan baku untuk sekolah-sekolah tidak memicu kenaikan harga yang tidak terkendali.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Tanah Laut, Masturi, S.STP, menekankan bahwa manajemen ketersediaan pangan adalah kunci utama dalam meredam laju inflasi, terutama pada sektor pokok.

"Business matching difokuskan pada aspek ketersediaan pangan guna menekan inflasi, khususnya komoditas beras yang menjadi penyumbang inflasi Oktober 2025 sebesar 1,27 persen.

Upaya yang dilakukan diarahkan pada pemanfaatan bahan pangan lokal tanpa mengganggu operasional dapur MBG," ujar Masturi.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Wilayah Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) menjelaskan bahwa saat ini jangkauan program sudah meluas ke puluhan sekolah.

Strategi untuk mengganti nasi dengan bahan pangan lokal lainnya menjadi salah satu cara menjaga stabilitas stok beras di lapangan.

"Saat ini terdapat 5 SPPG aktif yang melayani sekitar 42 sekolah, dengan pola menu basah dan kering serta diversifikasi pangan melalui penggantian nasi dengan ubi rebus. Sebagian besar bahan baku diperoleh dari wilayah Tanah Laut, khususnya beras dari Kecamatan Kurau," jelas pihak SPPG.

Dukungan lintas sektor juga diperkuat dengan komitmen perangkat daerah untuk terus memantau Harga Eceran Tertinggi (HET) di pasar-pasar tradisional.

Selain itu, optimalisasi produksi telur dan ayam dari peternak lokal Tanah Laut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan dapur gizi tanpa mengganggu pasokan untuk konsumen umum.