“Jangan diviralkan, nanti malah diklaim negara,” tulis salah satu warganet.
“Kalau benar emas, takutnya nanti tanah warga disita,” komentar lainnya.
“Aceh kaya alam, tapi rakyat masih susah,” tulis akun lain dengan nada miris.

Fenomena ini menjadi ironi pascabencana. Di satu sisi, warga melihat peluang ekonomi dari sisa musibah, sementara di sisi lain muncul kekhawatiran kolektif akan potensi konflik hukum dan klaim kepemilikan.

Tanpa kepastian resmi, aktivitas warga di Desa Seuradeuk kini berada di antara harapan akan rezeki tak terduga dan kecemasan akan dampak hukum di kemudian hari.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad