Menurutnya, pemicu kericuhan terjadi karena warga meminta agar data 80 nama tersebut dibuka secara transparan, sementara pihak Kesra desa belum bisa membuka data tersebut.

“Warga minta data 80 itu dibuka, sedangkan Kesra tidak mau membuka datanya dengan berbagai pertimbangan. Itu yang jadi pemicu ricuh,” ungkapnya. (wartabanjar.com/alfi)

Editor: Yayu