Pers Diberi Baju 'Relawan' dan Dilarang Mendekat di Pembukaan Porprov Kalsel XII
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Kemeriahan pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) XII di Kabupaten Tanah Laut, Sabtu (1/11/2025) sore hingga malam, menyisakan kekecewaan mendalam bagi para jurnalis yang bertugas.
Puncaknya, para wartawan sepakat mengembalikan atribut yang diberikan panitia di Sekretariat KONI Tanah Laut, Minggu (2/11/2025).
Aksi ini dipicu oleh perlakuan panitia pelaksana yang dinilai tidak profesional dan merendahkan profesi jurnalis. Para kuli tinta yang hendak meliput acara akbar tersebut justru dibekali seragam bertuliskan "Relawan", bukan "Pers".
Baca Juga Live Streaming Barito Putera vs Persiba Balikpapan di Pegadaian Championship
Hal ini diungkapkan oleh Salim, Bendahara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tanah Laut dari Radarbanjarmasin.com.
Ia menegaskan bahwa atribut 'relawan' itu tidak hanya salah kaprah, tetapi juga secara nyata menghambat kerja jurnalistik di lapangan.
"Dalam praktik di lapangan, penggunaan atribut itu justru menimbulkan kesalahpahaman dan menghambat kerja2 jurnalistik kami. Kami beberapa kali dianggap relawan dan diminta bantu oleh pihak panitia dari salah satu cabor untuk membantu acara mereka, selain itu saat pembukaan sejumlah wartawan juga aksesnya di batasi dan tidak yg menimbulkan perdebatan dengan panitia," tegas Salim, Minggu (2/11/2025).
Salim menegaskan, pers bekerja dilindungi undang-undang dan seharusnya menjadi mitra strategis dalam penyelenggaraan acara, bukan sekadar pelengkap yang disamakan dengan sukarelawan.
"Sebagai insan pers, kami bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Maka sangat disayangkan jika atribut resmi yang diberikan justru mereduksi identitas kami sebagai wartawan menjadi seolah-olah “relawan”," lanjutnya.
"Kami berharap KONI dan panitia pelaksana dapat lebih menghargai profesionalisme dan independensi wartawan, yang sejatinya menjadi mitra penting dalam keberhasilan penyelenggaraan Porprov ini," tambah Salim.
Kekecewaan para jurnalis diperparah dengan pembatasan akses yang kaku dan tidak adil selama upacara pembukaan.
Ironisnya, saat pers dilarang keras mendekati tribun VVIP, di area yang sama justru terlihat masyarakat umum hingga penjual minuman leluasa berlalu-lalang dan berjualan tanpa larangan berarti dari petugas.