“Banyak korban ditembak di belakang kepala, di punggung. Ini bukan keamanan publik, ini eksekusi,”
tegas Raull Santiago, aktivis HAM setempat.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi berdarah ini. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM menuntut penyelidikan independen dan transparan, karena diduga kuat terjadi pelanggaran HAM berat.

“Beberapa korban ditemukan dengan luka bakar dan tanda-tanda diikat sebelum dibunuh. Ada yang dieksekusi dengan darah dingin,”
ungkap Albino Pereira Neto, pengacara yang mewakili keluarga korban.

Tragedi ini menandai salah satu operasi polisi paling mematikan dalam sejarah Amerika Latin. Warga kini menuntut kebenaran, sementara dunia menanti langkah nyata pemerintah Brasil: apakah akan melindungi rakyatnya atau membiarkan darah terus tumpah di jalanan Rio.(Wartabanjar.com/nurmuhammad)

editor: nur muhammad