Selain menjaga adab, pihak pengelola juga rutin membersihkan area makam dua kali dalam seminggu, setiap malam Rabu dan malam Minggu, namun kebersihan masih menjadi tantangan tersendiri.

“Masih ada yang buang sampah sembarangan, padahal tempat sampah sudah disediakan. Dalam seminggu, sampah bisa sampai satu truk,” ungkap Husein.

Ia berharap, para peziarah tidak hanya datang untuk memanjatkan doa, tetapi juga ikut menjaga kesucian tempat tersebut.

“Di makam waliyullah ini, insya Allah doa lebih mudah dikabulkan, tetapi tolong jaga adab, jangan selfie-selfie di dalam kubah. Ini tempat ziarah, bukan tempat wisata,” pesannya.

Husein juga mengimbau agar setiap peziarah bertanggung jawab terhadap kebersihan.

“Kalau tempat sampah penuh, mohon bawa pulang sampahnya masing-masing. Supaya tempat ini tetap bersih dan nyaman bagi semua,” tambahnya.

Salah satu peziarah asal Banjarmasin, Fitri (26), turut membenarkan ramainya makam tersebut.

“Setiap kali datang ke sini, selalu ramai, tetapi suasananya damai. Mudah-mudahan tempat ini terus terjaga dan membawa berkah untuk kita semua,” ujarnya lirih.

Kini, Kubah Habib Hamid Basirih bukan sekadar makam seorang ulama besar.

Ia telah menjelma menjadi ikon religius dan warisan budaya Banjar, tempat ribuan hati datang bersujud, berdoa, dan menjemput keberkahan. (wartabanjar.com/Ramadan)

Editor: Yayu