“Pernah dipukuli sampai sakit kepala, sampai enggak mau sekolah. Tapi setelah dibujuk, dia masuk lagi meski masih sering dihina,” ujarnya lirih.

Sekolah Disorot: Guru Tak Ada Saat Jam Pelajaran

Kematian Angga memunculkan sorotan tajam terhadap pengawasan di lingkungan sekolah. Banyak pihak menyesalkan tidaknya kehadiran guru saat jam pelajaran berlangsung.

“Harusnya diawasi. Sudah pernah kejadian, tapi tidak ada tindakan. Anak saya pendiam, enggak aneh-aneh, cuma suka main bola,” tangis sang kakek.

Kabar simpang siur juga beredar, termasuk dugaan bahwa Angga didorong dari tangga oleh teman-temannya. Namun hal itu masih dalam penyelidikan.

Kepala SMP Negeri 1 Geyer, Sukatno, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan menyatakan kasus kini ditangani oleh Polres Grobogan.

“Permasalahan sudah ditangani pihak berwajib,” ujarnya singkat.

Polisi masih memeriksa sejumlah saksi, termasuk beberapa siswa dan guru, untuk memastikan motif dan kronologi pasti kematian Angga.

Peristiwa tragis ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Indonesia akan bahaya bullying yang dibiarkan tanpa pengawasan.

Masyarakat pun menyerukan agar pelaku dan pihak sekolah bertanggung jawab penuh atas kematian bocah 12 tahun yang dikenal penurut dan penyayang itu.(Wartabanjar.com/Berbagai Sumber)

editor: nur muhammad