Dalam ajaran Syeikh Datu Abulung, konsep Nur Muhammad menjadi inti kosmologi, yaitu cahaya awal ciptaan dari Dzat Allah yang darinya tercipta langit, ruh Nabi, dan seluruh alam semesta.

BACA JUGA: Harga BBM Pertamina Oktober 2025 Resmi Naik, Dex Series Tembus Rp 14 Ribu, ini Daftar di Kalsel dan Seluruh Indonesia

"Hal ini merujuk pada hadis qudsi Jabir yang menjadi rujukan sufisme di banyak belahan dunia Islam," imbuh Mursalin.

Meski begitu, Datu Abulung tidak mengajarkan panteisme, melainkan fana' dan baka' atau kesadaran spiritual tertinggi yang menghapus ego demi menyatu dengan kehendak Ilahi, tanpa mengaburkan batas antara makhluk dan Sang Khalik.

Bagian dalam Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung atau Masjid Datu Abulung di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Kalsel. Foto: Wartabanjar.com/Ikhsan

"Beliau menjelaskan simbol alif-lam-lam-ha (Allah) sebagai representasi dari zat, sifat, asma, dan af‘al Tuhan. Melalui teori Martabat Tujuh, beliau mengajak manusia memahami asal dan tujuan penciptaannya," paparnya.

Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung bukan hanya sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga simbol dari tradisi keilmuan dan spiritual yang kaya di Banjar.

"Makam Syeikh Datu Abulung yang terletak di tepi Sungai Martapura kini menjadi tempat peringatan haul tahunan bagi masyarakat sekitar," tutup Sejarawan Banua tersebut. (wartabanjar.com/IKhsan)

Editor: Yayu