Masjid Datu Abulung, Jejak Sejarah dan Spirit Tasawuf di Tepian Martapura
Dalam ajaran Syeikh Datu Abulung, konsep Nur Muhammad menjadi inti kosmologi, yaitu cahaya awal ciptaan dari Dzat Allah yang darinya tercipta langit, ruh Nabi, dan seluruh alam semesta.
"Hal ini merujuk pada hadis qudsi Jabir yang menjadi rujukan sufisme di banyak belahan dunia Islam," imbuh Mursalin.
Meski begitu, Datu Abulung tidak mengajarkan panteisme, melainkan fana' dan baka' atau kesadaran spiritual tertinggi yang menghapus ego demi menyatu dengan kehendak Ilahi, tanpa mengaburkan batas antara makhluk dan Sang Khalik.

"Beliau menjelaskan simbol alif-lam-lam-ha (Allah) sebagai representasi dari zat, sifat, asma, dan af‘al Tuhan. Melalui teori Martabat Tujuh, beliau mengajak manusia memahami asal dan tujuan penciptaannya," paparnya.
Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung bukan hanya sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga simbol dari tradisi keilmuan dan spiritual yang kaya di Banjar.
"Makam Syeikh Datu Abulung yang terletak di tepi Sungai Martapura kini menjadi tempat peringatan haul tahunan bagi masyarakat sekitar," tutup Sejarawan Banua tersebut. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor: Yayu