WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Tabir tragedi memilukan yang menewaskan driver ojek online Affan Kurniawan (21) akhirnya sedikit terkuak. Sopir kendaraan taktis (rantis) Brimob yang melindas Affan, yakni Bripka R, akhirnya buka suara dalam pemeriksaan Propam yang disiarkan langsung lewat akun Instagram @divpropampolri. Dengan suara bergetar, Bripka R mengaku tindakannya saat itu dipicu rasa panik dan desakan untuk menyelamatkan rekan-rekan yang berada di dalam rantis. “Kalau saya berhenti habis, Pak. Massa sudah nyerang pakai batu, bom molotov. Sebagai driver, saya harus mampu menyelamatkan orang dalam kendaraan saya,” ujar Bripka R. BACA JUGA:VIDEO – Tanpa Pengawalan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X Hadir di Tengah Demonstran “Pandangan Terbatas, Fokus ke Depan” Bripka R berdalih kondisi kacau membuatnya tak bisa melihat jelas. Menurutnya, kaca rantis memakai ram gelap, ditambah asap pekat dan lemparan benda tumpul yang membuatnya hanya fokus menembus kerumunan. “Mobil saya tinggi, kaca pakai ram gelap, asap penuh. Saya fokus ke depan, saya hantam saja karena kalau tidak diterobos selesai, Pak,” ungkapnya. Rantis yang digunakan diduga Rimueng, kendaraan taktis bertenaga mesin 3.200 cc, mampu melaju hingga 100 km/jam di jalan kota, bahkan sanggup menaklukkan tanjakan ekstrem 60 derajat. Praktisi Keselamatan: “Itu Rakyat, Bukan Musuh!” Pernyataan Bripka R menuai gelombang kritik. Praktisi keselamatan berkendara, Sony Susmana, menegaskan mengemudikan rantis tidak bisa sembarangan. “SOP escape harus penuh perhitungan. Blindspot memang besar, tapi yang dihadapi bukan musuh, melainkan rakyat. Senjata mereka paling kayu atau helm, mana mungkin bisa melukai rantis. Kok sampai dilindas?” tegas Sony. Kritik Mengalir Deras ke Polri Pengakuan Bripka R justru makin memicu kemarahan publik. Dalih “menyelamatkan rekan” dinilai tak sebanding dengan nyawa warga sipil yang melayang. Tragedi Affan pun semakin memperbesar gelombang aksi protes di berbagai kota besar di Indonesia, menuntut reformasi total Polri.(Wartabanjar.com/berbagai sumber) editor: nur muhammad