Sejak diluncurkan pada 10 Februari 2025, program CKG telah menjangkau 16,4 juta warga Indonesia. Dengan perluasan ke satuan pendidikan, program CKG ditargetkan mampu menyentuh seluruh populasi Indonesia, hingga 280 juta jiwa setiap tahunnya.
Program CKG di sekolah juga merupakan bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional, yang kini semakin mengedepankan upaya promotif dan preventif.
Dengan pendekatan ”jemput bola”, pemerintah menargetkan dapat melayani lebih dari 53 juta siswa dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK, hingga pesantren di seluruh Indonesia.
Dilakukan secara kolaboratif
Pelaksanaan CKG di sekolah dilakukan secara kolaboratif antara tenaga kesehatan di puskesmas dan tenaga pendidik di sekolah.
Pemeriksaan mencakup status gizi, tekanan darah, mata, telinga, gigi, kesehatan mental, hingga kebugaran. Untuk SMP dan SMA, ditambahkan skrining anemia, talasemia, dan kesehatan reproduksi.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menambahkan, pelaksanaan program CKG di sekolah telah dirancang dengan cermat dan melalui uji coba di beberapa sekolah.
Ia juga memastikan, pemeriksaan untuk siswa SD tidak melibatkan pengambilan darah, sehingga orang tua tidak perlu khawatir.
”Jadi jangan takut, tidak ada yang disuntik. Pemeriksaannya hanya meliputi tinggi badan, berat badan, tekanan darah, gigi, mata, dan telinga,” jelas Maria.
Siap mendukung
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menyampaikan, pihaknya siap mendukung penuh pelaksanaan kick-off CKG di sekolah pada 4 Agustus 2025, termasuk dengan mengerahkan juru bicara dan tenaga komunikasi utama di lokasi acara.







