Kebakaran di Wildan Sari Banjarmasin Diduga karena Korsleting Listrik, Ini Fakta-faktanya
Menurut Nor Halifah, Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) Kelurahan Sungai Tiung, rumah Yamani masih sangat memprihatinkan. Ia tinggal bersama seorang istri dan dua orang anaknya di rumah ukuran 3 x 4 meter persegi.
”Kamar mandi berada di dalam rumah, satu tempat dengan akses yang sama. Ini tentu tidak layak dari sisi kesehatan dan kenyamanan,” ungkapnya.
Yamani akhirnya menerima bantuan dari Pemerintah Kota Banjarbaru. Bantuan berupa rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) itu diserahkan langsung oleh Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby dan Wakil Wali Kota Wartono.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan tersebut. “Dulu sempat didata, tapi belum pernah dapat. Alhamdulillah, sekarang akhirnya bisa merasakan bantuan ini,” imbuh Yamani.
Sementara itu, di RT 7 Kelurahan Cempaka, kondisi tak kalah memprihatinkan dialami Syahruni dan anaknya, Suhairianoor, yang tinggal di rumah berukuran hanya 1,5 x 3,5 meter, bekas pos kamling desa.
Ketua RT 7 Kelurahan Cempaka, Mukhlis mengatakan, sebelum menempati bangunan kecil ini, keduanya sempat berpindah-pindah, dari majelis hingga menumpang di rumah kerabat.
”Melihat kondisi ini, warga bersama para tokoh masyarakat berinisiatif patungan membangunkan rumah kecil untuk mereka,” ujarnya.
Kini, dengan bantuan dari Pemkot, rumah tersebut akan diperluas menjadi 3,5 x 4,5 meter dan diberi akses ke kamar mandi. “Kami sangat berterima kasih. Bantuan ini akan sangat membantu untuk membuat rumah mereka lebih layak,” tutur Mukhlis. (IKhsan)
Editor Restu







