Masjid Al-A’la, Saksi Tiga Abad Sejarah dan Perlawanan Pasukan Baratib di HST

“Jumlah tiang dan tangga itu memiliki filosofi jumlah rakaat salat wajib sehari semalam, yakni 17. Dulu muazin naik tangga karena belum ada pengeras suara,” jelas Ali.

Atap masjid bertumpang empat khas rumah Banjar, dengan hiasan (sungkul) di bagian puncak.

Masjid ini juga menyimpan dua panji segitiga kuning bertuliskan kalimat tauhid serta Al-Qur’an tulisan tangan yang diyakini berasal dari masa pendirian masjid.

“Ini peninggalan datuk, H. Dahlan, yang wafat pada 1976. Panji dan Al-Qur’an ini menjadi simbol semangat perlawanan rakyat saat itu,” tambah Ali.

Konon, panji tersebut jatuh dari langit pada malam ke-21 Ramadan, bersamaan dengan awal pembangunan masjid.

Versi lain menyebutkan, panji dibawa oleh penasihat Kerajaan Banjar, H. Said M. Yusuf (H. Batu), yang diutus oleh seorang syarif dari Makkah untuk menyerahkannya ke Desa Jatuh.

Hingga kini, Masjid Al-A’la masih menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.

BACA JUGA: RUDAL IRAN MAKIN LIAR! Nyaris Hancurkan Kantor Microsoft Israel Usai Hantam Rumah Sakit dan Kawasan Teknologi

Jadi Tempat Pelaksanaan Tradisi Batumbang untuk Balita

Setiap Hari Raya Idulfitri, masyarakat melaksanakan tradisi Batumbang, yakni membawa balita untuk menaiki tangga mimbar masjid sembari berselawat.

“Tradisi ini mengandung doa dan harapan agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang baik dan bermanfaat,” ujar Ali.

Setelah prosesi, warga akan menyantap makanan khas Banjar bersama-sama sebagai simbol syukur kepada Allah SWT.

Masjid Al-A’la juga rutin menjadi tempat pengajian mingguan, khataman, dan peringatan hari besar Islam.

Atas nilai sejarah dan kebudayaannya, masjid ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah.

“Masjid ini bukan hanya bangunan, tapi simbol perjuangan, pusat dakwah, dan tempat lahirnya generasi muslim yang cinta agama dan tanah air,” pungkas Ali. (Adew)

Editor: Yayu