Masjid Al-A’la, Saksi Tiga Abad Sejarah dan Perlawanan Pasukan Baratib di HST
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BARABAI– Di simpang tiga sungai Kampung Pematang, Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, berdiri sebuah masjid tua yang sarat nilai sejarah.
Namanya Masjid Al-A’la, juga dikenal sebagai Masjid Barangkat, diyakini telah berdiri sejak abad ke-17, menjadikannya salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan.
Masjid yang namanya berarti “Tinggi” ini dipercaya oleh sebagian masyarakat setempat selalu mengalami pertambahan ketinggian setiap tahunnya.
Namun, menurut warga sekitar, hal tersebut hanyalah mitos.
Bagi mereka, Masjid Al-A’la tetap seperti biasa, kokoh berdiri sebagai tempat ibadah dan simbol perjuangan umat Islam.
Di masa penjajahan Belanda, Masjid Al-A’la bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga markas perlawanan.
Pasukan rakyat yang dikenal dengan nama Pasukan Baratib menjadikan masjid ini sebagai pusat pengaturan siasat dalam menghadapi serangan penjajah.
Pasukan ini dikenal karena selalu berzikir menyebut asma Allah, terutama ketika bertempur.
“Masjid ini dulu jadi tempat strategis untuk berkumpul dan menyusun perlawanan. Bahkan pertempuran sengit pernah terjadi di Pinangin, Banua Batung, dan berhasil menewaskan Kapten Van der Heide dari pihak Belanda,” ungkap Ali (40), Kaum Masjid Al-A’la, Jumat (20/6/2025).
Pasukan Baratib dipimpin oleh Penghulu Muda Yuda Lelana, ulama dan pemimpin spiritual daerah pada awal abad ke-19.
Beliau juga dikenal sebagai sosok penting dalam pengorganisasian masyarakat menghadapi kolonialisme.
16 Tiang di Satu Tangga
Masjid ini masih mempertahankan sebagian besar struktur aslinya, terutama dari kayu ulin.
Meski telah direnovasi sebagian menggunakan semen dan keramik, keaslian bentuk serta ciri khas bangunan tetap dipertahankan.
Terdapat 16 tiang dan satu tangga di dalam masjid.
Tangga ini menuju bagian atas dan dulunya digunakan muazin untuk mengumandangkan azan sebelum adanya pengeras suara.
“Jumlah tiang dan tangga itu memiliki filosofi jumlah rakaat salat wajib sehari semalam, yakni 17. Dulu muazin naik tangga karena belum ada pengeras suara,” jelas Ali.
Atap masjid bertumpang empat khas rumah Banjar, dengan hiasan (sungkul) di bagian puncak.
Masjid ini juga menyimpan dua panji segitiga kuning bertuliskan kalimat tauhid serta Al-Qur’an tulisan tangan yang diyakini berasal dari masa pendirian masjid.
“Ini peninggalan datuk, H. Dahlan, yang wafat pada 1976. Panji dan Al-Qur’an ini menjadi simbol semangat perlawanan rakyat saat itu,” tambah Ali.
Konon, panji tersebut jatuh dari langit pada malam ke-21 Ramadan, bersamaan dengan awal pembangunan masjid.
Versi lain menyebutkan, panji dibawa oleh penasihat Kerajaan Banjar, H. Said M. Yusuf (H. Batu), yang diutus oleh seorang syarif dari Makkah untuk menyerahkannya ke Desa Jatuh.
Hingga kini, Masjid Al-A’la masih menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
BACA JUGA: RUDAL IRAN MAKIN LIAR! Nyaris Hancurkan Kantor Microsoft Israel Usai Hantam Rumah Sakit dan Kawasan Teknologi
Jadi Tempat Pelaksanaan Tradisi Batumbang untuk Balita
Setiap Hari Raya Idulfitri, masyarakat melaksanakan tradisi Batumbang, yakni membawa balita untuk menaiki tangga mimbar masjid sembari berselawat.
“Tradisi ini mengandung doa dan harapan agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang baik dan bermanfaat,” ujar Ali.
Setelah prosesi, warga akan menyantap makanan khas Banjar bersama-sama sebagai simbol syukur kepada Allah SWT.
Masjid Al-A’la juga rutin menjadi tempat pengajian mingguan, khataman, dan peringatan hari besar Islam.
Atas nilai sejarah dan kebudayaannya, masjid ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah.
“Masjid ini bukan hanya bangunan, tapi simbol perjuangan, pusat dakwah, dan tempat lahirnya generasi muslim yang cinta agama dan tanah air,” pungkas Ali. (Adew)
Editor: Yayu