“Darah sebenarnya bisa diolah menjadi tepung darah, tetapi proses itu membutuhkan peralatan kompleks yang belum tersedia,” katanya.
Untuk saat ini, pihaknya hanya bisa melakukan upaya agar darah tidak mencemari lingkungan, biasanya dengan disinfektan dan kapur.
Untuk limbah padat seperti kotoran hewan, pihaknya melakukan pengolahan dengan metode fermentasi menggunakan EM4 sehingga dapat dijadikan pupuk kompos yang bermanfaat bagi petani.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap limbah dan kesehatan hewan karena potensi penularan penyakit zoonosis yang bisa menyebar dari hewan ke manusia.
“Tim pengawasan dari DKP3 mulai bertugas sejak hari H Idul Adha, dengan fokus pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem,” paparnya.
Jika ditemukan tanda-tanda penyakit, daging tersebut akan langsung dieliminasi dan tidak dibagikan kepada masyarakat.
Pengelolaan limbah kurban bukanlah hal baru di Banjarmasin, namun dengan semakin tingginya kesadaran akan pentingnya sanitasi dan kesehatan masyarakat, Pemerintah Kota Banjarmasinberharap seluruh proses kurban ke depan bisa berjalan lebih tertib dan aman bagi lingkungan maupun masyarakat. (Ramadan)
Editor: Yayu







