VIRAL! Rekonstruksi Terbunuhnya Prana Saputra: Ditendang Tiga Kali oleh Pelatih, Organ Dalam Hancur
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BOYOLALI – Duka mendalam menyelimuti keluarga Muhamad Prana Saputra (17), remaja asal Karanggede, Boyolali, yang meregang nyawa usai menerima tendangan bertubi-tubi dari pelatihnya dalam sesi latihan pencak silat.
Video rekonstruksi yang viral di media sosial, diunggah akun Instagram @merindink, menunjukkan momen tragis saat Prana mendapat dua tendangan keras ke ulu hati dari sang pelatih. Saat ia terlihat kesakitan dan memegangi perut, seorang pelatih lain malah melayangkan tendangan ketiga, yang langsung membuatnya ambruk dan tak sadarkan diri.
Luka Fatal di Organ Dalam
Pemeriksaan medis menunjukkan bahwa usus besar dan usus halus Prana mengalami pendarahan hebat, begitu pula bagian dada. Akibat luka-luka tersebut, pasokan oksigen ke paru-parunya terhenti, dan Prana akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
BACA JUGA:TRAGEDI MALAM IDULADHA di Jembatan Barito: 2 Tewas, 2 Luka-luka, Diduga Tabrak Lari Tengah Malam
Kematian tragis ini mengejutkan publik dan memicu kemarahan netizen.
Latihan Silat Berujung Maut
Prana diketahui mengikuti latihan bela diri dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Boyolali – Pusat Madiun, atau disebut juga PSHT 17. Kasus ini bukan yang pertama mencoreng nama perguruan silat di Indonesia.
Warganet pun ramai-ramai mengecam keras metode latihan yang dinilai brutal dan tidak berperikemanusiaan.
“Guru beladiri harus dites psikologi dan urin! Saya pernah ikut bela diri, tapi tak pernah pelatih sampai bikin murid babak belur, apalagi meninggal,” tulis seorang pengguna.
“Makanya saya lebih percaya karate atau taekwondo. Disiplin, pakai alat pelindung, dan tidak ada yang sampai melukai jiwa,” kata netizen lainnya.
Banyak juga yang meminta agar PSHT dibubarkan, mengingat kasus kekerasan yang disebut telah sering terjadi dan bahkan menelan banyak korban.
Netizen Berduka dan Geram
Unggahan video rekonstruksi kematian Prana langsung dibanjiri ribuan komentar. Mulai dari ungkapan duka, hingga kritik pedas terhadap sistem pelatihan pencak silat yang dianggap “tak terkendali”.
“Latihan kok beneran. Jancok emang,” tulis akun lain.
“Pencak silat itu untuk prestasi dan pertahanan diri, bukan ajang adu nyali atau adu kekuatan!” seru warganet.
Beberapa pengguna juga membandingkan metode latihan silat dengan bela diri lain seperti Tarung Derajat, Muay Thai, atau taekwondo, yang menggunakan pelindung tubuh dan kontrol tenaga dalam setiap sesi sparring.
Desakan Evaluasi dan Penegakan Hukum
Kasus ini kini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian. Masyarakat mendesak agar proses hukum berjalan transparan dan adil, serta meminta evaluasi menyeluruh terhadap perguruan silat yang kerap memakan korban.
Kematian Prana menjadi alarm keras bagi dunia bela diri Indonesia, agar keselamatan dan nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi pondasi utama dalam setiap latihan.(Wartabanjar.com/merindink/berbagai sumber)
editor: nur muhammad