Peristiwa tragis ini diduga kuat merupakan buntut perkelahian antar kelompok yang terjadi pada Jumat (30/5/2025) sekitar pukul 23.00 WITA di perbatasan antara Desa Muara Ulang (HSS) dan Desa Kundan, Kecamatan Hantakan (HST). Keponakan korban, Retno, menuturkan bahwa perkelahian terjadi tak jauh dari rumah mereka, sekitar tiga kilometer. Menurutnya, korban sempat menuju lokasi kejadian, namun tak kunjung pulang ke rumah. Ia mendengar kabar bahwa pamannya itu dikeroyok oleh puluhan orang saat berada di lokasi kejadian. Hingga dini harinya, Sabtu (31/5/2025) sekitar pukul 03.00 Wita, ujar Retno, pamannya belum juga ditemukan. Sejumlah warga setempat kemudian secara mandiri mencari Jumaidi hingga menjelang pagi. Sekitar pukul 05.30 WITA, warga menyebar ke hutan sekitar lokasi tersebut lalu menemukan jejak darah yang mengarah ke sungai. "Saya yang pertama kali menemukan jasad paman di hutan. Posisinya tertelungkup, tanpa kepala, masih mengenakan pakaian lengkap, sepatu bot, dan kumpang (sarung parang) di pinggang," tutur Retno pilu. Korban ditemukan sudah tak bernyawa sekitar pukul 07.00 Wita. Barang bukti di lokasi penemuan mencakup senjata tajam jenis parang atau mandau, pakaian, dan perlengkapan pribadi lainnya. Dugaan sementara, konflik ini dipicu perselisihan lama terkait lahan perbatasan antar desa. Jumaidi diketahui sehari-hari bekerja sebagai petani, memiliki seorang istri serta tiga orang anak. (yayu)