Keluhan lainnya datang dari petani yang menyimpan hingga 151 karung gabah di rumahnya karena belum ada kepastian kapan BULOG akan membelinya. Selain itu, BULOG masih menerapkan persyaratan ketat, seperti mewajibkan gabah benar-benar kering, yang makin menyulitkan petani. Masalah lain yang dikeluhkan adalah keterlambatan pembayaran dari BULOG yang bisa mencapai satu minggu, membuat petani kesulitan dalam perputaran modal.
Pemerintah Bertindak, BULOG Harus Berbenah
Situasi ini mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. Mentan Amran memastikan bahwa pencopotan pimpinan BULOG Kalsel bukan sekadar sanksi, tetapi langkah serius untuk memperbaiki sistem serapan gabah ke depan.
“Kita tidak bisa membiarkan petani terus dirugikan. Harus ada perbaikan nyata, BULOG harus turun ke lapangan, bukan sekadar menunggu di gudang! Ke depan, kita akan terus pantau agar penyerapan gabah berjalan optimal,” tegasnya.
Langkah ini diharapkan membawa perubahan positif bagi petani, memastikan harga gabah tetap stabil, serta mencegah petani mengalami kerugian akibat kebijakan yang tidak berjalan efektif. Pemerintah berkomitmen mengawal kesejahteraan petani dan memastikan kebijakan berpihak kepada mereka benar-benar terealisasi di lapangan.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







