WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Nasib Shin Tae-yong alias STY, pelatih timnas Indonesia, berada di ujung tanduk. PSSI akan menentukan masa depan pelatih asal Korea Selatan itu hari ini, Senin (6/1/2025), dalam sesi jumpa pers terkait rencana masa depan timnas Indonesia. Tujuan utama tetap sama, membawa timnas Indonesia tampil di Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya. Namun, performa Shin Tae-yong yang dianggap belum maksimal memunculkan opsi pergantian pelatih. Catatan Buruk STY di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Di bawah kepemimpinan Shin Tae-yong, timnas Indonesia hanya meraih 6 poin dari 6 pertandingan di Grup C Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Statistik Timnas Indonesia:
  1. Menang: 1 kali (vs Arab Saudi)
  2. Kalah: 2 kali (vs China dan Jepang)
  3. Imbang: 3 kali (vs Arab Saudi, Bahrain, dan Australia)
Saat ini, timnas Indonesia berada di posisi ketiga klasemen Grup C, dengan empat pertandingan tersisa melawan Australia, Bahrain, China, dan Jepang. Belum Ambil Keputusan Resmi Anggota Exco PSSI, Vivin Cahyani, menegaskan bahwa belum ada keputusan resmi terkait nasib Shin Tae-yong meski opsi pergantian pelatih tetap terbuka. “Belum ada keputusan resmi dari PSSI. Semua masih dibahas, termasuk opsi mendatangkan pelatih baru agar timnas Indonesia bisa memaksimalkan sisa pertandingan,” ujar Vivin. Menurutnya, keputusan ini diambil demi target besar PSSI untuk membawa timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia 2026. Pro dan Kontra Pemecatan Jika Shin Tae-yong diberhentikan, PSSI harus siap menghadapi pro dan kontra dari pecinta sepak bola tanah air. Shin Tae-yong, yang telah melatih timnas Indonesia sejak Desember 2019, memang belum memberikan gelar juara. Namun, gaya permainan yang diusungnya telah mendapat tempat di hati para pendukung tim Garuda. Meski begitu, PSSI menilai perubahan tetap diperlukan untuk mencapai misi besar. “Semua sangat dinamis dan terbuka terhadap perubahan. Mohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia untuk timnas kita,” tutup Vivin.(Wartabanjar.com/Beritasatu.com) editor: nur muhammad