“Mungkin bisa kami lakukan ke depan perubahan dengan beda tahun misalnya. Tetapi yang jelas saat ini partisipasi yang paling banyak itu justru yang kabupaten-kota, berbanding yang provinsi,” kata Dede.
Selain faktor kelelahan, Dede merasa rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam pilkada juga dipengaruhi oleh elektabilitas dan popularitas kontestan. Menurutnya, daya tarik calon sangat mempengaruhi masyarakat datang ke TPS dan menyumbangkan suaranya.
Baca juga: Teguran Berujung Maut! Pria di Kotabaru Diserang Parang hingga Luka Parah Gara-Gara Alkohol
Meski KPU sudah melakukan sosialisasi secara maksimal, partisipasi pemilih tetap bergantung pada daya tarik calon yang bertarung. Jika calon yang maju kurang menarik tentunya tingkat partisipasi, terutama provinsi, bakal rendah.
“Kalau kita lihat bahwa dari sekarang jumlah pesertanya tidak maksimal, itu menandakan mungkin calon-calonnya bukan calon yang menarik buat para pemilih,” kata Dede. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko







