Baca juga:Menkes Heran Dilaporkan Sebarkan Hoax Kematian Peserta Didik PPDS Undip
Pertama, korban telah menyuntikkan obat untuk penyakit yang diderita kemudian meninggal karena kelalaian atau kedua sengaja melakukan itu untuk bunuh diri.
“Kematian almarhumah Aulia mengacu ke dua premis. Apakah itu sebuah kelalaian atau untuk bunuh diri,” kata Irwan di Mapolrestabes Semarang, Senin (19/8/2024) siang.
“Keterangan obat merupakan roculax yang fungsinya untuk relaksasi dalam proses pembedahan. Namun, apakah juga digunakan korban untuk mengobati sakit atau tidak, nanti itu akan digali lebih dalam oleh ahli,” imbuhnya.
Diketahui, saat ini penyidik juga membentuk tim untuk mendapatkan informasi soal aksi bullying, yang diduga dialami korban saat dinas di RSUP dr Kariadi Semarang.
“Kami sudah membentuk tim untuk mengggali informasi soal adanya dugaan bullying. Tim itu saat ini sedang bekerja dan pada dalam waktu dekat akan dilakukan pemeriksaan di circle teman-teman, orang tua, sahabat almarhum,” kata dia.
Terpisah, Nuzmatun Malinah, ibunda dokter Aulia Risma mengatakan memang ada pungutan atau dugaan pemerasan yang dialami Aulia selama menempuh pendidikan di PPDS Undip. Bahkan, beberapa pungutan liar itu masih terjadi sesaat sebelum korban meninggal dunia.
Nuzmatun memerinci, dana iuran yang dikeluarkan sekitar Rp 225 juta selama dokter Aulia menjalani PPDS di RSUP Dr Kariadi. Ia menegaskan, iuran itu ada bukti bukti transaksi, yang kini telah sudah diserahkan ke Polda Jateng.
Baca juga:Rektor Undip Buka Suara Terkait Kasus Dokter Muda Aulia
“Rekening koran bukti transfer iuran sudah kita serahkan ke Polda Jateng. Dana itu juga berasal dari saya selaku ibu yang mengirim ke almarhumah. Uang itu untuk kebutuhan angkatan dan lainnya”.
“Pada semester pertama juga ada untuk senior dan sisanya untuk angkatan,” paparnya di Semarang pada Rabu (18/9/2024).(pwk)
Editor: purwoko







