Kawasan Ekonomi Khusus Cepu Raya Mungkinkah Terwujud?

Para pengusaha pun, menurutnya, telah merespon adanya kegiatan produksi Migas di Blok Cepu, termasuk yang terbaru di Banyu Urip, Bojonegoro, dengan membangun tempat-tempat penginapan: hotel dan homestay dan sebagian masyarakat menyulap rumah-rumah mereka di sepanjang jalan-jalan utama Kota Cepu, menjadi tempat-tempat jajanan dan mini resto.

“Pada waktu akhir pekan banyak remaja yang nongkrong di sana. Kondisi ini mirip dengan Kota Bandung. Bedanya di Cepu, lebih banyak melibatkan masyarakat kalangan bawah,” tutur Ashadi.

Pemda Blora, sambung Ashadi, dengan melihat sumber daya yang dimiliki Kota Cepu, telah dan sedang mengembangkan kota menuju Cepu Raya. Sejak tahu 2000-an, Pemda merevitalisasi jaringan jalan dan taman-taman kota, serta membuka tempat-tempat wisata. Salah satunya adalah peningkatan kualitas jaringan jalan di pusat kota dan ‘Juliana Boulevard” (Taman Tuk Buntung dan Taman Seribu Lampu), meskipun belum optimal karena banyak ruas jalan yang pinggirannya masih berupa tanah sehingga becek jika hujan dan berdebu jika kemarau.

Hal ini bisa dijumpai pada dua ruas Jalan Ronggolawe yang mengapit Taman Seribu Lampu, sepanjang sekitar 700 meter, pada bagian pinggiran jalan, selebar 3 meter, masih berupa tanah. Begitu pula dua ruas Jalan Tuk Buntung, sepanjang 450 meter.

“Padahal kedua zona ini sangat ramai di malam hari, dipadati oleh pengunjung dan jajanan pedagang kaki lima,” Ashadi menandaskan.

Seperti diketahui bahwa Taman Seribu Lampu dan Taman Tuk Buntug sangat hidup di malam hari, apalagi pada akhir pekan. Kegiatan rekreasi keluarga dan jajanan kaki lima di kedua zona ini tentu bisa meningkatkan perekonomian masyarakat kalangan bawah. Keadaan pinggiran jalan yang becek saat hujan dan berdebu saat kemarau sangat mengganggu kenyamanan pengunjung.

Sementara tempat-tempat wisata, seperti MC Edupark dan Locotour, meskipun sudah diusahakan semenarik mungkin, tetapi pengunjungnya setiap harinya tidak banyak, kecuali pada hari libur. Hal ini perlu mendapat perhatian dari Pemda, jika perlu melibatkan institusi pendidikan dasar yang menjadikannya sebagai tempat ‘pembelajaran lapangan’ yang tentu saja harus dimasukkan ke dalam kurikulum.

“Itulah sebagian potensi yang dimiliki Cepu dan beberapa kendala yang harus dihadapi ketika Cepu akan dijadikan Pusat Perekonomian, menjadi Pintu Gerbang kegiatan perekonomian Jawa Tengah di bagian Timur,” Ashadi menegaskan.

Menurut Ashadi, ada empat prioritas yang bisa menjadi perhatian Pemda.

Pertama, peningkatan kualitas ruas jalan terutama di dua zona: Taman Seribu Lampu dan Taman Tuk Buntung.

Kedua, peningkatan manajemen transportasi kota, salah satunya yang mendesak adalah adanya angkutan kota.

Ketiga, peningkatan ekonomi kalangan masyarakat menengah atas, seperti adanya pusat-pusat perbelanjaan modern yang nyaman dan bisa untuk healing.

Keempat, meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Tentu saja keinginan luhur dan tekad itu tidak bisa dilakukan hanya oleh seorang Bupati dan segelitir perangkat Pemda Blora namun harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Dengan segala potensi yang dimilikinya, dan dengan keterlibatan banyak pihak, gagasan Cepu Raya insyaAllah bisa terwujud,”pungkas Ashadi. (Sidik Purwoko)

Editor: Sidik Purwoko