WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Sejak akhir 2021, muncul sebuah gagasan ‘Cepu Raya’ yang merupakan perwujudan Cepu sebagai sebuah kawasan ekonomi khusus yang terdiri dari Blora, Bojonegoro, Ngawi, dan Tuban dengan segala potensi perekonomiannya. Gagasan itu mungkinkah akan terwujud? Ashadi seorang peneliti Cepu, merupakan Dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Jakarta berpandangan, gagasan ambisius ini bukanlah tanpa alasan. Sejak dahulu, memang geliat kegiatan ekonomi Cepu tampak cukup hidup. Di samping itu, Cepu memiliki sejarah kota yang panjang dan memiliki banyak potensi, diantaranya lokasinya yang strategis dengan jaringan transportasi antar kotanya, beberapa tempat wisata, dan potensi Migas (minyak gas). Letaknya yang strategis di antara dan menghubungkan kota-kota perdagangan di Jawa Tengah bagian timur-utara dan Jawa Timur bagian barat-utara, menjadikan Cepu sebagai kota yang selalu ramai dan sangat hidup dan menjadi kota penting di kawasan itu. Ashadi menjelaskan, jaringan transportasi Kota Cepu saat ini relatif cukup baik. Sehingga dapat dipastikan telah mampu menjangkau dari dan ke kota-kota penting di sekitarnya, baik dengan moda darat maupun udara. Jaringan jalan raya yang menghubungkan wilayah Kabupaten Blora di Jawa Tengah dengan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur, juga sudah terbangun dengan baik, terutama sejak diresmikannya dua jembatan penting yang menghubungkan kedua wilayah. Yaitu Jembatan Padangan-Kasiman (PK) di utara Cepu dan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) di selatan Cepu. “Cepu juga memiliki transportasi kereta api jalur utara, rute Jakarta-Surabaya. Kemudahan, kenyamanan, dan biaya yang tidak terlalu mahal menjadikan transportasi kereta api ini primadona angkutan darat dari Jakarta menuju Cepu atau sebaliknya,” ungkap Ashadi dalam acara Rerembugan Sejarah Cepu secara daring pada 19 Februari 2024. Transportasi khususnya dari Jakarta ke Cepu atau sebaliknya, kata Ashadi, dapat juga melalui jalur udara, setelah diresmikannya Bandara Ngloram pada 17 Desember 2021, dua kali dalam seminggu. Namun, moda transportasi udara ini kurang peminat, masih kalah oleh moda transportasi darat kereta api. Moda transportasi udara, dianggapnya terlalu ‘ribet’ dan ongkosnya mahal, di samping belum adanya angkutan feeder (angkutan pengumpan) dari bandara ke terminal bus dan angkutan kota Cepu. “Jaringan jalan dan fasilitas transportasi yang baik, tentu saja tidak lantas dapat mendorong tumbuhnya perekonomian kota. Di sana dibutuhkan manajemen transpotasi yang profesional di samping adanya integrasi jaringan jalan di wilayah Cepu dan sekitarnya yang melibatkan seluruh moda transportasi yang ada – udara dan darat,” ungkap Ashadi. Lebih lanjut Ashadi mengatakan, geliat ekonomi terutama di kalangan masyarakat bawah sangat terlihat terutama di tempat-tempat wisata, seperti wisata budaya, wisata edukasi, wisata taman, dan wisata desa, seiring dengan geliat Migas dalam beberapa tahun belakangan ini. Seperti diketahui bahwa di bidang Migas, sejak akhir abad 19, Cepu sudah mendunia karena Migas. Dulu ada Concessie Panolan, dan kini ada konsesi-konsesi Blok Cepu, terutama sejak ditingkatkannya kapasitas dan kualitas produksi sumur-sumur tua dan ditemukannya sumber Migas di Banyu Urip, Bojonegoro. Baca juga: Kapolda DIY Jadi Pembicara Dialog Publik, Ini Yang Dibahas “Imej Cepu sebagai Kota Migas rupanya menjadi salah satu dara tarik wisatawan lokal. Pemda melihat peluang pariwisata di kawasan ini, dengan membangun dan meningkatkan tempat-tempat wisata dan kuliner,” ujar peraih Doktoral dari Universitas Parahyangan Bandung tahun 2019 ini. Pada 2017 – 2020, ungkap Ashadi, Pemda Blora meningkatkan Taman Seribu Lampu yang merupakan salah satu ikon baru Kota Cepu. Dua Zona (dari enam zona) taman dijadikan pusat jajan dan kuliner, yang selalu ramai pada waktu malam hari. Sementara pada siang hari Taman Seribu Lampu adalah Kawasan taman yang menarik dan Instagramable; di sana tidak diperbolehkan ada kegiatan jajan dan kuliner (pedagang kaki lima). Peningkatan fasilitas taman rekreasi juga dilakukan terhadap MC Edupark dan Locotour. “Namun, kedua taman rekreasi itu tidak banyak pengunjungnya, kecuali pada hari-hari liburan sekolah,” jelas Ashadi seperti dikutip Wartabanjar.com. Ia menambahkan, bahwa Cepu dan sekitarnya memiliki atau berkaitan erat dengan banyak potensi untuk menjadikannya lebih berkembang, seperti potensi wisata budaya (Ngloram dan Jipang), desa wisata (desa Ledok dan kampung Samin), wisata edukasi (MC Edupark dan Locotour), dan potensi Migas. Cepu, meskipun kota kecil, namun mendunia dari zaman Kolonial Belanda hingga sekarang, karena minyak. Dulu ada konsesi minyak Panolan dan di era modern ini, ada konsesi-konsesi minyak yang berkaitan dengan Blok Cepu (yang melibatkan Kabupaten Blora dan Bojonegoro). “Pada 1990 – 1998, di Blok Cepu, ditemukan kandungan migas dalam jumlah besar di lokasi-lokasi lama (di Kabupaten Blora dan Bojonegoro) tetapi lebih dalam dan lokasi baru di Banyu Urip, Bojonegoro,” kata Ashadi. Para pengusaha pun, menurutnya, telah merespon adanya kegiatan produksi Migas di Blok Cepu, termasuk yang terbaru di Banyu Urip, Bojonegoro, dengan membangun tempat-tempat penginapan: hotel dan homestay dan sebagian masyarakat menyulap rumah-rumah mereka di sepanjang jalan-jalan utama Kota Cepu, menjadi tempat-tempat jajanan dan mini resto. “Pada waktu akhir pekan banyak remaja yang nongkrong di sana. Kondisi ini mirip dengan Kota Bandung. Bedanya di Cepu, lebih banyak melibatkan masyarakat kalangan bawah,” tutur Ashadi. Pemda Blora, sambung Ashadi, dengan melihat sumber daya yang dimiliki Kota Cepu, telah dan sedang mengembangkan kota menuju Cepu Raya. Sejak tahu 2000-an, Pemda merevitalisasi jaringan jalan dan taman-taman kota, serta membuka tempat-tempat wisata. Salah satunya adalah peningkatan kualitas jaringan jalan di pusat kota dan ‘Juliana Boulevard” (Taman Tuk Buntung dan Taman Seribu Lampu), meskipun belum optimal karena banyak ruas jalan yang pinggirannya masih berupa tanah sehingga becek jika hujan dan berdebu jika kemarau. Hal ini bisa dijumpai pada dua ruas Jalan Ronggolawe yang mengapit Taman Seribu Lampu, sepanjang sekitar 700 meter, pada bagian pinggiran jalan, selebar 3 meter, masih berupa tanah. Begitu pula dua ruas Jalan Tuk Buntung, sepanjang 450 meter. “Padahal kedua zona ini sangat ramai di malam hari, dipadati oleh pengunjung dan jajanan pedagang kaki lima,” Ashadi menandaskan. Seperti diketahui bahwa Taman Seribu Lampu dan Taman Tuk Buntug sangat hidup di malam hari, apalagi pada akhir pekan. Kegiatan rekreasi keluarga dan jajanan kaki lima di kedua zona ini tentu bisa meningkatkan perekonomian masyarakat kalangan bawah. Keadaan pinggiran jalan yang becek saat hujan dan berdebu saat kemarau sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Sementara tempat-tempat wisata, seperti MC Edupark dan Locotour, meskipun sudah diusahakan semenarik mungkin, tetapi pengunjungnya setiap harinya tidak banyak, kecuali pada hari libur. Hal ini perlu mendapat perhatian dari Pemda, jika perlu melibatkan institusi pendidikan dasar yang menjadikannya sebagai tempat ‘pembelajaran lapangan’ yang tentu saja harus dimasukkan ke dalam kurikulum. “Itulah sebagian potensi yang dimiliki Cepu dan beberapa kendala yang harus dihadapi ketika Cepu akan dijadikan Pusat Perekonomian, menjadi Pintu Gerbang kegiatan perekonomian Jawa Tengah di bagian Timur,” Ashadi menegaskan. Menurut Ashadi, ada empat prioritas yang bisa menjadi perhatian Pemda. Pertama, peningkatan kualitas ruas jalan terutama di dua zona: Taman Seribu Lampu dan Taman Tuk Buntung. Kedua, peningkatan manajemen transportasi kota, salah satunya yang mendesak adalah adanya angkutan kota. Ketiga, peningkatan ekonomi kalangan masyarakat menengah atas, seperti adanya pusat-pusat perbelanjaan modern yang nyaman dan bisa untuk healing. Keempat, meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Tentu saja keinginan luhur dan tekad itu tidak bisa dilakukan hanya oleh seorang Bupati dan segelitir perangkat Pemda Blora namun harus melibatkan seluruh elemen masyarakat. “Dengan segala potensi yang dimilikinya, dan dengan keterlibatan banyak pihak, gagasan Cepu Raya insyaAllah bisa terwujud,”pungkas Ashadi. (Sidik Purwoko) Editor: Sidik Purwoko