Hal ini disebutkan Ibnu ‘Asyur tatkala menafsirkan ayat ini.
وهَذا التَّصْغِيرُ كِنايَةٌ عَنْ تَحْبِيبٍ وشَفَقَةٍ. نَزَّلَ الكَبِيرَ مَنزِلَةَ الصَّغِيرِ لِأنَّ شَأْنَ الصَّغِيرِ أنْ يُحَبَّ ويُشْفَقَ عَلَيْهِ. وفي ذَلِكَ كِنايَةٌ عَنْ إمْحاضِ النُّصْحِ لَهُ.
Artinya: “Tasghir di sini merupakan kinayah dari rasa cinta dan penuh kasih sayang. Menurunkan sikap orang yang sudah dewasa ke taraf anak kecil. Hal ini karena kondisi anak kecil memang patut untuk dicintai dan disayangi. Dalam hal tersebut menjadi kinayah untuk dari tulusnya nasihat yang disampaikan kepada anaknya” (Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz 12, halaman 213)
Senada dengan Ibnu ‘Asyur, Prof. Quraish Shihab, dikutip dari NU Online, Minggu (3/3/2024), juga mengatakan bahwa bentuk tasghir di sini untuk menggambarkan rasa kasih sayang, karena rasa tersebut biasanya tercurahkan kepada anak, apalagi yang masih kecil. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Keserasian Al-Qur’an, Juz 6 [Jakarta: Lentera Hati, 2002], halaman 397)
Begitu pula pada surah Luqman ayat 31, dengan redaksi yang sama, Luqman menasihati anaknya dengan kata ya bunayya.
Ini merupakan bentuk tarqiq menjaga kelembutan dan kasih sayang terhadap anak.
Sama halnya dengan kalimat yang diungkapkan kepada seseorang dengan lafal “ya akhi, wahai saudaraku”. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Juz 11, halaman 127).
Nabi Muhammad juga memanggil sahabatnya menggunakan tasghir, seperti Abu Hurairah. Kata ‘hurairah’ merupakan bentuk tasghir dari kata ‘hirrah’, yakni kucing, karena kedekatannya dengan kucing.
Apa yang diungkapkan mufasir Tafsir Al-Misbah, mengenai Abu Hurairah menunjukkan bahwa panggilan tasghir tidak hanya terbatas pada anak kecil saja, namun juga bisa diterapkan pada teman sejawat.
Karena pesan yang ingin disampaikan Al-Qur’an ialah bagaimana komunikasi berlangsung sopan dan penuh kesantunan kepada siapa saja.
Komunikasi yang efektif terhadap anak berpengaruh besar untuk membuatnya mudah menerima nasihat yang disampaikan.
Nasihat yang dibalut rasa kedekatan dan kelembutan akan membentuk mental dan pola pikir anak yang tidak ingin mengganggu dan berkata kasar dalam berinteraksi pada orang lain.
Membentuk pola komunikasi seperti ini memang merupakan tanggung jawab bagi keluarga, terutama orang tua sebagai awal madrasah mereka, tetapi di samping itu, juga diperlukan sokongan dan kerja sama dari berbagai pihak mulai dari guru, masyarakat dan lingkungan sekitar.
Pembiasaan seperti ini akan menjadikan anak tumbuh sebagai generasi cinta akan kedamaian dan mencegah mereka terhadap kekerasan, baik menjadi korban ataupun pelaku kekerasan, seperti bullying. (yayu/berbagai sumber)
Editor: Yayu







