Solusi Mencegah Perundungan atau Bullying Menurut Islam

Artinya: “Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu karena mereka akan membuat tipu daya yang sungguh-sungguh kepadamu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang jelas bagi manusia.”

Jika kita telisik, ada pesan penting dari dialog yang terjadi antara ayah dan anak tersebut.

Nabi Ya’qub mengawali nasihatnya dengan munada (panggilan) kepada anaknya dengan lafal ya bunayya (wahai anakku).

Redaksi tersebut merupakan isim tasghir (pengecilan) dari lafal ibn (anak) yang ikut wazan fu’ailun sehingga menjadi bunayya.

Faidah dari tasghir ini adalah untuk menunjukkan rasa belas kasih dan penuh cinta.

Hal ini disebutkan Ibnu ‘Asyur tatkala menafsirkan ayat ini.

وهَذا التَّصْغِيرُ كِنايَةٌ عَنْ تَحْبِيبٍ وشَفَقَةٍ. نَزَّلَ الكَبِيرَ مَنزِلَةَ الصَّغِيرِ لِأنَّ شَأْنَ الصَّغِيرِ أنْ يُحَبَّ ويُشْفَقَ عَلَيْهِ. وفي ذَلِكَ كِنايَةٌ عَنْ إمْحاضِ النُّصْحِ لَهُ.

Artinya: “Tasghir di sini merupakan kinayah dari rasa cinta dan penuh kasih sayang. Menurunkan sikap orang yang sudah dewasa ke taraf anak kecil. Hal ini karena kondisi anak kecil memang patut untuk dicintai dan disayangi. Dalam hal tersebut menjadi kinayah untuk dari tulusnya nasihat yang disampaikan kepada anaknya” (Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz 12, halaman 213)

Senada dengan Ibnu ‘Asyur, Prof. Quraish Shihab, dikutip dari NU Online, Minggu (3/3/2024), juga mengatakan bahwa bentuk tasghir di sini untuk menggambarkan rasa kasih sayang, karena rasa tersebut biasanya tercurahkan kepada anak, apalagi yang masih kecil. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Keserasian Al-Qur’an, Juz 6 [Jakarta: Lentera Hati, 2002], halaman 397)