3. Ada tidaknya rasa nyeri
Selain itu, sariawan biasa di dalam mulut biasanya langsung terasa seperti sensasi terbakar, menyengat, atau kesemutan.
Namun, pada tahap awal, kanker mulut jarang menimbulkan rasa sakit.
4. Perubahan
Temui dokter bila kamu memiliki bercak kecil yang membesar, bercak putih yang berubah menjadi merah, atau lesi yang mengeluarkan darah yang tidak seharusnya.
5. Perkembangan
Coba perhatikan apakah lesi di dalam mulut kamu semakin memburuk atau membaik seiring berjalannya waktu?
Kebanyakan sariawan akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu dua atau tiga minggu. Jika kamu punya tidak, mungkin inilah saatnya menemui dokter.
Tahukah kamu bahwa risiko kanker lebih tinggi terjadi pada perokok. Simak selengkapnya di sini: “Ini Alasan Merokok Tingkatkan Risiko Kanker Mulut”.
Kenali Gejala Kanker Mulut
Selain sariawan, kanker jenis ini juga bisa menimbulkan gejala lainnya, antara lain:
-Bercak merah atau putih di dalam mulut.
-Benjolan di dalam mulut atau di bibir.
-Rasa sakit di dalam mulut.
-Kesulitan menelan.
-Kesulitan berbicara atau suara serak (parau).
-Benjolan di leher atau tenggorokan.
-Berat badan menurun tanpa sengaja.
Kamu juga bisa melakukan pemeriksaan mulut sendiri di rumah lho atau SAMURI untuk mendeteksi penyakit tersebut. Agar lebih jelas, lanjut di sini: “SAMURI Wajib Dilakukan untuk Cegah Kanker Mulut”.
Namun, untuk memastikan diagnosis kanker mulut, kamu mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti:
Pemeriksaan fisik. Dokter atau dokter gigi akan memeriksa bibir dan mulut kamu untuk mencari kelainan, area iritasi, seperti luka dan bercak putih (leukoplakia).
Pengangkatan jaringan untuk pengujian (biopsi). Jika ada area yang mencurigakan, dokter atau dokter gigi mungkin akan mengambil sampel sel untuk pengujian laboratorium melalui prosedur yang disebut biopsi.
Dokter mungkin menggunakan alat untuk memotong sampel jaringan atau menggunakan jarum untuk mengambil sampel.
Di laboratorium, ahli akan menganalisis untuk mengetahui adanya kanker atau perubahan prakanker yang mengindikasikan risiko kanker di masa depan. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







