Selama periode 15 tahun, para peneliti mengamati berapa banyak partisipan yang didiagnosis menderita penyakit Parkinson.
Dari sana, tim meninjau apakah ada perbedaan risiko terkena penyakit Parkinson berdasarkan kesepian.
Penulis studi, Antonio Terracciano, menyebutkan para peserta studi berusia antara 38 hingga 73 tahun.
Sebanyak 54 persen di antaranya adalah perempuan. Kesepian lebih umum terjadi pada perempuan, orang yang berusia lebih muda, orang dengan tingkat pendidikan lebih rendah, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan mental dan fisik tertentu.
Seperti yang sudah disebutkan, orang yang kesepian memiliki risiko 37 persen lebih besar terkena Parkinson.
Setelah memperhitungkan faktor risiko penyakit Parkinson lainnya, seperti genetika dan kondisi kesehatan lainnya, orang yang kesepian masih mengalami peningkatan risiko sebesar 25 persen.
Terracciano yang merupakan profesor di departemen geriatri di Florida State University College of Medicine mengatakan hubungan antara kesepian dan Parkinson konsisten pada jenis kelamin dan usia.
Namun, para ahli mencatat beberapa kemungkinan keterbatasan penelitian terkait kualitas data.
Data yang ada mungkin tidak tepat karena diagnosis yang salah. Bisa juga, diagnosis mungkin terlewat jika seseorang tidak memeriksakan diri ke dokter dan menunjukkan gejala.
Selain itu, mungkin saja kesepian didefinisikan secara berbeda.
Secara umum, penelitian tersebut hanyalah eksplorasi atau titik awal yang membuktikan ada semacam hubungan antara kesepian dan kesehatan otak. Salah satu gagasan yang mungkin adalah bahwa kesepian adalah gejala awal penyakit Parkinson.







