Hasil Studi, Merasa Kesepian Bisa Tingkatkan Risiko Parkinson

Sebanyak 54 persen di antaranya adalah perempuan. Kesepian lebih umum terjadi pada perempuan, orang yang berusia lebih muda, orang dengan tingkat pendidikan lebih rendah, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan mental dan fisik tertentu.

Seperti yang sudah disebutkan, orang yang kesepian memiliki risiko 37 persen lebih besar terkena Parkinson.

Setelah memperhitungkan faktor risiko penyakit Parkinson lainnya, seperti genetika dan kondisi kesehatan lainnya, orang yang kesepian masih mengalami peningkatan risiko sebesar 25 persen.

Terracciano yang merupakan profesor di departemen geriatri di Florida State University College of Medicine mengatakan hubungan antara kesepian dan Parkinson konsisten pada jenis kelamin dan usia.

Namun, para ahli mencatat beberapa kemungkinan keterbatasan penelitian terkait kualitas data.

Data yang ada mungkin tidak tepat karena diagnosis yang salah. Bisa juga, diagnosis mungkin terlewat jika seseorang tidak memeriksakan diri ke dokter dan menunjukkan gejala.

Selain itu, mungkin saja kesepian didefinisikan secara berbeda.

Secara umum, penelitian tersebut hanyalah eksplorasi atau titik awal yang membuktikan ada semacam hubungan antara kesepian dan kesehatan otak. Salah satu gagasan yang mungkin adalah bahwa kesepian adalah gejala awal penyakit Parkinson.

Para peneliti menduga bahwa kesepian mungkin berhubungan dengan penyakit Parkinson pada tingkat yang sama seperti kecemasan, apatis, kelelahan, dan depresi.

Namun, setelah memperhitungkan depresi dalam analisis, kesepian masih dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit.

“Kami pikir tekanan emosional yang terkait dengan kesepian inilah yang menjadi faktor penyebabnya.

Perasaan tertekan ini dapat mengikis kemampuan otak untuk melawan faktor genetik, atau hal lain yang dapat menyebabkan penyakit Parkinson,” terang Terracciano. (berbagai sumber)

Editor: Erna Djedi