“Jamaah haji yang datang dari Asia Selatan dulu bermukim di Ajyad Al-Sad dan Misfalah, yakni di wilayah yang terletak di antara Misial Al-Harsani dan Bustan Al-Bukhari, sedangkan jemaah haji Afrika bermukim di Misfalah Al-Hafaer dan Jalan Al-Mansour.
“Adapun peziarah Iran, mereka tinggal di Al-Maabadah dan Alshaisha, sedangkan peziarah dari Asia Tenggara lebih suka tinggal di lingkungan Al-Shamiya, Al-Naqa, As Sulaymaniyah dan Al-Falq.”
Dengan dimulainya perluasan ketiga Masjidil Haram, banyak dari lingkungan di dekat tempat suci ini dihancurkan untuk dijadikan menara tempat tinggal kelas atas.
“Karena banyak jemaah yang tidak mampu membeli unit seperti itu, mereka beralih tinggal di daerah yang jauh dari, namun sering menyediakan sarana transportasi ke Masjidil Haram.
“Peziarah Turki menuju Alshaisha, Al-Aziziyah dan Al-Maabadah … situs ini terdiri dari restoran dan kafe, yang pemilik dan pekerjanya berbicara bahasa peziarah dan menyediakan hidangan Turki,” kata Halabi.
Menurut penasehat, peziarah dari Asia Selatan pindah ke Al-Aziziya, di wilayah yang dikenal sebagai Mukhatat Albank.
Banyak peziarah Arab sekarang tinggal di daerah sekitar pusat kota, termasuk Jaroul dan Misfalah di pusat kota, sementara peziarah Afrika terus tinggal di Al-Hafaer dan Jalan Mansour.
Peziarah dari Asia Tenggara pindah ke daerah dekat Masjidil Haram, seperti Jalan Ibrahim Al-Khalil dan Mukhatat Bakhtama. (edj)
Editor: Erna Djedi







