Dila melanjutkan, siklon tropis ini dapat dihasilkan dari pembentukan vorteks yang terus menerus membesar sehingga dapat menjadi siklon tropis.

Pemicunya, menurut Erma adalah akibat dari interaksi gelombang atmosfer tropis ekuator, seperti Kelvin-Rossby.

"Faktor penyebab karena menghangatnya suhu permukaan laut dalam waktu lama, berhari-hari," imbuhnya.

Sementara itu, faktor pemelihara kondisi ini adalah karena ada penguatan angin zonal atau meridional yang saling berlawanan arah dan bersifat konstan namun terus berlanjut.

"Angin ini merupakan faktor penting yang dapat mendukung gerakan konstan untuk memutar sehingga vorteks berubah jadi siklon," sambungnya.

Hal itulah yang dideteksi pihaknya dalam beberapa hari terakhir di sekitar Indonesia.

"Selama beberapa hari terakhir, telah terjadi prakondisi bagi pembentukan pusat tekanan rendah yang berpotensi berubah menjadi vorteks di utara Australia. Efek prakondisi ini bahkan telah mengaktifkan monsun Asia, juga memperkuat angin permukaan dari utara maupun barat laut," katanya lagi.

"Penguatan monsun Asia dan pembentukan pusat tekanan rendah di Australia inilah dua penyebab utama peningkatan signifikan hujan kembali terjadi di Indonesia," urainya.

Menurut prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banyak kota besar di Indonesia akan hujan ringan pada Senin (27/2/2023) pagi, di antaranya adalah DKI Jakarta dan Makassar.

Pada siang hari, BMKG mencatat terdapat dua kota yang akan diguyur hujan dengan intensitas ringan yakni Makassar dan juga Palembang.

Untuk kota lainnya yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan diperkirakan akan berawan tebal.