Diakuinya, dulu ia membeli tanah di kawasan itu terbilang murah.

Makanya tak heran letak rumahnya berada di ujung sendirian.

"Dulu juga kering saat membeli, makanya ada akses lain. Tapi semenjak banjir dulu sampai sekarang di kawasan ini air tetap tinggi," ungkapnya.

Saat ditanya apakah pernah menyampaikan keluhan kepada ketua RT ataupun lurah setempat, ia mengaku belum ada karena ia belum lama tinggal di kawasan itu.

"Belum ada, tapi dari kelurahan ada memantau, namun hingga sekarang tidak ada tindakan," tuturnya.

Mengingat kondisi seperti itu sudah terjadi dua tahun lamanya, tentunya ia sangat berharap adanya solusi dari Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin.

Pasalnya, jika ia memperbaiki sendiri akses jalan titian rusak yang panjangnya kurang lebih 100 meter itu tidak ada dana lagi, karena ada kebutuhan lain yang harus ia penuhi.

Belum lagi kemungkinan rusak lagi bisa terjadi karena perbaikan yang dilakukan hanya semampunya.

"Saya berharap tergerak hati pemerintah untuk keluarga kami. Kasihan anak-anak saya yang masih kecil terutama karena harus lewat rawa setiap harinya," tutupnya. (est)

Editor: Yayu

Baca Juga: Bacaan Akhir Tahun dan Awal Tahun 2023, Buya Yahya: Tidak di Alun-alun Ya!