Mereka juga menggelar ceramah singkat soal kehebatan dan prestasi Kim Jong Il.

Warga itu menilai perayaan tersebut tak perlu di tengah krisis pangan yang tengah menjerat Korut.

"Mungkin akan lebih baik memasok penduduk dengan batu bara atau kayu bakar selama musim dingin, daripada ceramah dan propaganda, yang sungguh mirip kicauan burung beo," katanya.

Dalam rangka memperingati satu dekade wafatnya mantan pemimpin Korea Utara itu, pemerintah juga melarang warga melakukan kegiatan yang merusak suasana duka, termasuk tertawa.

Salah satu warga di Kota Sinuiju mengatakan, selama masa berkabung warga tak boleh minum alkohol, tertawa, atau melakukan aktivitas bersenang-senang.

Pemerintah, katanya, juga melakukan pengawasan ketat selama masa berkabung.

"Di masa lalu, banyak orang tertangkap minum-minum atau mabuk di masa berkabung akhirnya ditangkap dan dianggap sebagai pelaku kejahatan ideologi. Mereka dibawa dan tak pernah terlihat lagi," tutur warga itu.

Ia juga bercerita, "Bahkan jika anggota keluarga kalian meninggal di masa berkabung, kalian tidak boleh menangis terlalu keras dan jasadnya hanya bisa dibawa setelah masa berkabung berakhir. Warga tidak bisa merayakan ulang tahun jika jatuh di masa berkabung." (brs/berbagai sumber)

Editor: Yayu Fathilal