Ditanya Tarif PCR Terus Berubah, Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Jangan Bandingkan Saat 'Caos'
WARTABANJAR.COM - Buka-bukaan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan terkait bisnis PCR melalui PT GSI pada Deddy Corbuzier.
Paling disorot adalah tarif tes PCR yang diketahui kerap berubah hingga mencapai Rp 275 untuk wilayah Jawa-Bali dan Rp 300 ribu untuk wilayah luar Jawa-Bali.
Dari batas tarif PCR sebelumnya Rp 495.000 untuk Jawa-Bali dan Rp 525.000 untuk luar Jawa-Bali.
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya buka suara soal isu dirinya terlibat bisnis PCR. Ia menceritakan awal dirinya terlibat hingga dikaitkan dengan PCR.
"Saya ingat, ada Seto (Septian Hario Seto-red) waktu itu Komisaris BNI, PCR di rumah sakit itu harganya Rp 6 jutaan dan baru satu minggu baru keluar," kata Luhut dalam Deddy Corbuzier Podcast yang dikutip pada Rabu (10/11/2021).
Kemudian Luhut mengaku berusaha mencari jalan keluar PCR dengan harga murah.
"Dicarilah, harganya mahal itu di Eropa. Akhirnya saya suruh cari teman-teman di China. Di China, ketemulah brand yang gak terkenal tapi saya minta bawa sampelnya cek di UI, hasilnya sangat baik, harganya sepersepuluh. Nah itu harga mulai terjun ke bawah (murah)," katanya.
"Jadi orang gak paham, kita ini (memutar otak) bagaimana harganya semurah mungkin. Tapi kalau Rp 300 ribu (mahal) saya gak tau," ujarnya.
Deddy pun bertanya apa benar ada company-company yang mencari untung tinggi dari PCR itu.
"Saya gak tahu persis. Hanya saya selalu ngomel kenapa harga gak bisa diturunin lagi," jawab Luhut.
Luhut pun menjelaskan soal harga tak bisa dibandingkan dengan saat pandemi lalu yang kritis.
"Kamu tak bisa membandingkan dengan situasi yang caos. Setiap keputusan yang saya buat pasti BPKP diaudit dulu, cek dulu," ujar Luhut.
Disindir mengenai audit, Luhut mengaku siap untuk diaudit.
"Tapi kalau dia audit janjian dulu ya, kalau ternyata gue gak ngambil gue tumbuk (tinju) ya. Masih kuat walau 74 tahun," katanya.(aqu)
Editor Restu