"Mereka meminta saya tidak ikut unjuk rasa. Mereka [Taliban] akan membunuh kamu. Saya sempat bertengkar dengan kakak saya untuk menghadiri aksi pada hari Rabu. Kami harus bersuara.

Saya tidak takut. Saya akan terus bersuara, sampai mereka membunuh kami. Lebih baik mati sekalian daripada mati perlahan-lahan." tutur Sara.

Berbeda Sara, Jia yang sudah memiliki empat anak bahkan baru melahirkan justru didorong keluarga untuk ikut unjuk rasa. Mereka tampaknya sudah muak dengan perlakuan para militan.

"Taliban tidak di sini hanya untuk beberapa hari. Mereka di sini untuk waktu yang lama. Kami harus menuntut hak kami, bukan hanya untuk kami, tapi bagi generasi selanjutnya, anak-anak kami,"

"Kami tahu Taliban akan menemukan kami dan mungkin menyasar kami. Tapi kami tidak punya pilihan. Kami harus jalan terus." ujarnya

Taliban sendiri telah memberikan respons dan secara tidak langsung memang melarang unjuk rasa.

Mereka mengatakan jika warga yang mau melakukan aksi protes harus mendapatkan izin dari Kementerian Kehakiman.

Petugas keamanan juga perlu diberi informasi tentang lokasi dan waktu, dan bahkan spanduk dan slogan yang akan digunakan.

Turki dan Iran

Turki memberi pernyataan mengejutkan soal Taliban di Afghanistan kemarin.

Dalam komentar terbarunya, negeri Presiden Recep Tayyip Erdogan itu meminta dunia tak terburu-buru mengakui kekuasaan Taliban di Afghanistan.

Dalam sebuah wawancara, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu menyuarakan kehati-hatian tentang hubungan Turki dan kelompok Islam fundamentalis itu.

Dirinya pun meminta pemerintahan baru Afghanistan bersifat inklusif, menambahkan pentingnya perempuan dan kelompok etnis lain diberikan jabatan menteri.

"Tidak perlu terburu-buru," katanya, dikutip dari AFP, Selasa (7/8/2021).

"Ini adalah saran kami ke seluruh dunia. Kita harus bertindak bersama dengan komunitas internasional."

Turki sendiri sedang mengadakan pembicaraan dengan Taliban di Kabul soal operasi bandara internasional di ibu kota itu. Tidak jelas apakah pernyataan itu muncul terkait dengan pembicaraan keduanya.

Namun, Turki menegaskan akan bekerja sama dengan Qatar dan Amerika Serikat (AS) jika bandara resmi dioperasikan.