Nasehat Indah dari Syekh Ibrahim Bin Adham Agar Dijauhkan Dari Maksiat
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Diceritakan suatu hari, seorang lelaki yang dipenuhi kebimbangan karena ia terus melakukan maksiat datang menghadap Syekh Ibrahim bin Adham.
Ibrahim bin Adham adalah ulama terkemuka di daerahnya. Ia biasa disapa dengan panggillan Abu Ishaq.
“Wahai Abu Ishaq, berilah aku nasehat. Sungguh aku adalah seorang lelaki yang telah banyak melakukan maksiat dan dosa” ucap sang lelaki.
Ibrahim bin Adham terdiam sejenak, kemudian Ia mengetahui bahwa lelaki tersebut dalam keadaan bimbang.
Berkata Syekh Ibrahim bin Adham : “Wahai saudaraku ada lima hal yang harus engkau jalani apabila ingin perbuatan maksiatmu tidak membinasakanmu”.
“Apa saja lima perkara itu wahai Abu Ishaq?” tanya sang lelaki : "
“Pertama, apabila hendak berbuat maksiat, maka janganlah engkau makan dari rezeki-Nya” jawab Ibrahim.
“Ya Abu Ishaq, bagaimana bisa, sedangkan semua yang ada di bumi adalah rezeki dari-Nya.” Jawabnya.
Ibrahim pun tersenyum, “Bagaimana mungkin engkau terus mengambil rezeki-Nya, sementara engaku selalu durhaka pada-Nya”.
“Engkau benar. Lantas, apa perkara kedua? Tanyanya.
“Kedua, jangalah engkau menempati bumi-Nya jika ingin berbuat maksiat,” kata Ibrahim.
Sang lelaki kaget dan berkata “Mana mungkin aku pergi dari bumi ini? Bukankah dari timur sampai barat adalah kepunyaan-Nya?”
Ibrahim berkata “Jadi, pantaskah bagimu mengambil rezeki, tinggal dibumi milik-Nya dan engkau terus berbuat maksiat kepada-Nya”. “Tentu tak pantas ya Abu Ishaq.” Jawabnya.
“Kemudian, apa perkara ketiga?” ia bertanya lagi.
“Ketiga, jika engkau ingin berbuat maksiat, carilah tempat yang tidak dapat dilihat oleh-Nya,” kata Syekh Ibrahim bin Adham.
Ia semakin bingung dengan pertanyaan Syaikh Ibrahim. “Itu jelas tak mungkin, Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha mengetahui bahkan apa yang terbesit di dalam hati manusia?” jawabnya.
“Wahai saudaraku, masihkah engkau mau berbuat maksiat sedangkan engkau memakan rezeki, mendiami bumi, lalu berbuat durhaka padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui?” dengan lemah lembut Ibrahim terus memberikan penjelasan.
“Baiklah Abu Ishaq” ia mengangguk dengan jawaban Syekh Ibrahim bin Adham.