WARTABANJAR.COM, SAMARINDA - Video yang berisi percakapan Presiden Joko Widodo, dengan sejumlah pejabat negara dan daerah membuat bikin geger.

Video tersebut di antaranya tersebar di aplikasi TikTok diunggah oleh media online merdeka.com.

Tampak Presiden Jokowo sedang ngobrol santai bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto, dan kepala daerah di Kalimantan Timur, yakni Gubernur Isran Noor dan Wali Kota Samarinda Andi Harun. Mereka ngobrol sambil berdiri.

Saat itu Wali Kota Samarinda, Andi Harun, di mengungkapkan sudah dua kali menggunakan vaksin Nusantara.

"Sudah dua kali plus booster vaksin Nusantara Pak Terawan," ujarnya.

Terdengar suara Presiden Jokowi tertawa kecil setelah Andi Harun selesai mengatakan hal tersebut.

Lalu Jokowi menyahut, "Hebat itu….(pantas) seger bener Pak Wali Kota… Mendahului kita." Disambut gelak tawa mereka yang terlibat dalam dialog tersebut.

Jokowi juga sempat menanyakan sejumlah pejabatnya apakah telah menggunakan vaksin Nusantara.

Bahkan Presiden Jokowi sempat menyebut dengan nada setengah bertanya bahwa khasiat vaksin Nusantara itu selamanya.

Berdasarkan keterangan unggahan merdeka.com, video tersebut merupakan live acara Presiden di Samarinda.

Siaran live itu ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Namun tayangan itu kemudian dihapus.

Simak rekaman videonya di bawah ini:

Tentang Vaksi Nusantara

Dikutip dari Bisnis.com, yang dilansir 24 Agustus 2021 tadi, bahwa vaksin Nusantara (AV-COVID-19) diklaim telah melalui uji klinis fase 2 dan akan memasuki uji klinis fase 3, menurut studi terbaru yang dipublikasikan di clinicaltrials.gov.

Berdasarkan deskripsi studi tersebut, uji klinis acak tersamar ganda fase 2 yang menguji vaksin anti-SARS-CoV-2 COVID-19 (AV-COVID-19), yang dibuat di lokasi menggunakan kit pendukung vaksin PT AIVITA Biomedika Indonesia untuk pencegahan infeksi COVID- 19.

Produk ini adalah vaksin pribadi khusus subjek yang terdiri dari sel dendritik autologus dan limfosit (DCL) yang sebelumnya diinkubasi dengan sejumlah protein lonjakan SARS-CoV-2 (protein S) yang terbukti aman dalam studi fase 1, yang juga dilakukan di Indonesia.