Sebagai bank teknologi yang tengah berkembang, perseroan terus mengalokasikan belanja modal untuk investasi IT, pengembangan aplikasi dan rekruitmen talenta baru. Hal tersebut membuat biaya operasional (operating expense) meningkat 135 persen menjadi Rp183 miliar. Kenaikan biaya operasional itu berdampak ke perolehan laba periode semester I-2021 yang masih membukukan rugi bersih.

Dari sisi aset, terdapat kenaikan yang signifikan sebesar 491 persen dari Rp1,7 triliun menjadi Rp10 triliun. Adapun ekuitas meningkat 538 persen dari Rp1,3 triliun menjadi Rp8,1 triliun. Dari sisi perolehan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan 326 persen menjadi Rp1,73 triliun.

"Berbagai indikator keuangan menunjukkan Bank Jago memiliki fundamental yang sangat kuat dan mampu menopang target untuk tumbuh secara berkelanjutan," kata Kharim. (ant)

Edito: Erna Djedi