Pengelolaan Sampah Organik di Desa Atu-Atu Tanah Laut Dikembangkan Lewat Budidaya Maggot
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Komunitas Pengelola Sampah Organik Sinergi (Kopasos) mengintegrasikan pengolahan limbah organik dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk pakan ternak di Desa Atu-Atu, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (16/9/2026).
Langkah ini menjadi solusi konkrit dalam mereduksi volume sampah sekaligus menekan biaya pakan budidaya perikanan dan peternakan warga.
Inisiatif pengolahan sampah ini digagas warga sejak 2021 sebagai solusi atas penumpukan limbah organik rumah tangga.
Maggot BSF yang dibudidayakan selama 15 hingga 20 hari dimanfaatkan sebagai pakan efisien untuk ayam, telur, serta ikan lele dan nila, sehingga meningkatkan keuntungan usaha warga.
Baca juga: BPBD Tanah Bumbu Kerahkan Helikopter Water Bombing Tangani Karhutla
Baca juga: Tujuh Bangunan di Tabudarat Hilir HST Terbakar, Dokumen Empat Keluarga Ikut Hangus
Founder Kopasos, Heri Winardi, menjelaskan bahwa fokus utama komunitasnya terletak pada penekanan biaya operasional budidaya melalui skema ekonomi sirkular.
"Komposisi paling besar dalam satu budidaya adalah biaya pakan. Kalau biaya pakan bisa dikurangi melalui budidaya maggot dari sampah organik, tentunya hasil usaha bisa lebih banyak dan keuntungannya meningkat," jelasnya, Rabu (16/09/2026).
Pengembangan lokasi pengolahan dilakukan secara swadaya, didukung fasilitas angkut dan penampungan dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Tanah Laut.
Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto, mengapresiasi inovasi berbasis potensi lokal tersebut saat meninjau lokasi.
Pemanfaatan lahan pemerintah daerah yang belum optimal dinilai berpotensi diperluas guna mendukung integrasi pengelolaan sampah dan pemulihan ekonomi masyarakat menuju Tanah Laut yang Simpun, Maju, dan Berkelanjutan. (Wartabanjar.com)