WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Kampung Sundawa di Desa Batu Mulya, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) berkembang menjadi permukiman multietnis yang produktif setelah pertama kali dibuka oleh belasan keluarga transmigran asal Pulau Jawa pada 1 Mei 1978.

Dusun yang mencakup wilayah RT 06 hingga RT 10 ini awalnya dirintis oleh warga transmigrasi asal  Sunda dan Jawa.

Kini, keberagaman budaya dan bahasa tumbuh berdampingan seiring perkembangan kawasan tersebut dari hutan permukiman baru menjadi pusat aktivitas pertanian dan industri rumahan.

Para warga generasi awal mengingat jelas awal kedatangan mereka puluhan tahun silam. 

Baca juga: Cegah ASN Keluyuran Saat Jam Kerja, Satpol PP Tanah Laut Pasang Plang Peringatan Perda

Baca juga: Kawasan Gagas Pelaihari Dipercantik, Satpol PP Tanah Laut Ingatkan Pedagang Tak Gunakan Trotoar

Salah seorang transmigran asal Madiun, Mariman (72), menceritakan perjalanan awal kelompoknya saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Kalimantan.

"Kalau saya pendatang dari Jawa Timur Madiun. Tanggal 1 Mei 1978 berangkat dari sana. Dulu ke sini satu desa 15 kepala keluarga sekitar 57 orang," kenang Mariman kepada Wartabanjar.com, Rabu (16/9/2026).

Seiring berjalannya waktu, susunan penduduk asli pemula mulai berganti generasi. 

Mariman menyebutkan bahwa sebagian besar rombongan pertama kini telah wafat dan menyisakan sedikit dari generasi perintis.

"Sekarang tinggal dua orang dari 15 kepala keluarga itu. Selebihnya suda meninggal tinggal anak anaknya saja," tambah Mariman.

Proses transmigrasi juga membawa gelombang pendatang dari daerah lain seperti Surabaya hingga Jawa Barat. 

Akulturasi budaya pun terbentuk secara alami di Kampung Sundawa, menciptakan keharmonisan bahasa di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.

Warga setempat, Teh Aan, mengungkapkan bahwa interaksi sosial di dusunnya dipengaruhi oleh latar belakang asal daerah para penghuninya yang beragam.

"Kalau saya dari Majalengka. Di Dusun Sundawa, ada bahasa Sunda, Banjar, Jawa. Tapi yang banyak Sunda. Sundanya di sini dari Majalengka, Bandung, dari Banten ada juga," tutur Teh Aan.