Bagian luar mata yang terdiri atas sel epitel kornea dan konjungtiva berkontak langsung dengan lingkungan luar sehingga dapat terkontaminasi melalui droplet dan aerosol dari individu yang terinfeksi virus Sars Cov-2.

Empat peranan yang menjadi perhatian dalam varian baru ini yakni transmisi virus, derajat keparahan, peluang re-infeksi, dan efektivitas vaksin.

Kemampuan transmisi varian ini menjadi 20 persen lebih progresif menular lebih cepat.

“Median interval untuk transmisi/penularan varian Delta dan Alpha adalah 4 hari. Masa inkubasi SarsCov-2 (antara eksposur virus hingga terjadi gejala) rata – rata adalah 5 – 6 hari namun dapat juga selama 14 hari tergantung dari faktor tubuh merespon virulensi. Pemeriksaan RT-PCR dapat mendeteksi virus 1 – 3 hari sebelum gejala,” ujar dr. Wita.

Dia menambahkan, kelompok usia anak sangat rentan dengan varian baru dibandingkan dewasa.

Hal tersebut terkait dengan mekanisme perlindungan kekebalan silang yang disebabkan coronavirus di mana yang awalnya kategori anak lebih terlindung justru menjadi kini menjadi kurang terlindung terhadap varian baru.

Masker yang Tepat

Dokter Nafiandi menjelaskan, masih ada kemungkinan tertular COVID-19 walaupun menggunakan masker karena kemampuan masker tidak 100 persen memfiltrasi partikel.

Sedangkan, face shield atau kaca mata juga masih memiliki celah atau rongga untuk virus masuk ke area mata.

Dia mengimbau masyarakat untuk memperhatikan cara penggunaan masker yang benar.

“Seseorang sangat riskan terpapar COVID-19 jika jenis masker yang digunakan salah, cara memakai dan membuka masker salah, sering memegang masker waktu dipakai terutama bagian depan, serta tidak menjaga jarak karena tetap berisiko terinfeksi walaupun sudah memakai masker," katanya.

Masker harus menutupi hidung dan mulut, pastikan tangan bersih waktu memakai masker, jangan menyentuh masker yang digunakan, hindari menyentuh bagian depan masker ketika membuka masker dan buka masker dari belakang.