Olimpiade Tokyo 2021, Tantangan Tuan Rumah ditengah Pandemi
Panitia yang bertugas mengawasi persiapan logistik Tokyo 2020, Hidemasa Nakamura, pun mengakui bahwa panitia belum bisa memberikan kepastian apa pun soal pesta olahraga terakbar sejagat yang tinggal 100 hari lagi itu.
“Situasi terus berubah, bahkan dalam beberapa bulan terakhir situasi virus corona telah berubah masif, dan itu akan terus terjadi. Kondisi saat ini sangat menantang bagi kami untuk melanjutkan persiapan ketika kami sendiri pun tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan,” kata Nakamura dikutip Reuters, Rabu.
Meski demikian, Nakamura mengatakan bahwa panitia Tokyo 2020 berjanji untuk menggelar Olimpiade yang aman. Salah satunya, yakni dengan membuat buku panduan tindakan pencegahan Covid-19 yang edisi pertamanya telah dirilis Februari lalu. Buku panduan baru diharapkan selesai bulan ini.
“Penting bagi kami untuk menunjukkan apa yang kami punya saat ini, menerima masukan, dan menyelesaikan buku panduan selangkah demi selangkah. Kami tidak mau membahas ini secara tertutup,” ujarnya.
Tantangan nyata
Ketidakpastian kondisi gara-gara pandemi juga dirasakan salah seorang pejabat pemerintah kota Tokyo, Yoichiro Hara. Ia mengatakan timnya sedang mempertimbangkan apakah staf medis di posko pertolongan pertama perlu mengenakan APD lengkap. Namun dia belum tahu bagaimana kondisi penyebaran virus pada Juli nanti.
Keputusan jumlah penonton pun belum ditetapkan sehingga pihaknya belum dapat memastikan berapa banyak pos kesehatan yang dibutuhkan.
Tantangan lain yang dihadapi panitia adalah Kampung Atlet yang diharapkan bisa menampung 15.000 peserta dari lebih 200 negara yang akan berkompetisi pada 33 cabang olahraga di 42 venue. Panitia telah merencanakan merekrut 126.000 relawan untuk mengatur penempatan atlet dan penonton di sekitar kota.
“Sistem medis sudah terbatas. Pusat kesehatan lokal tidak mungkin bisa merawat para atlet di kampung atlet itu,” kata Hideki Hayakawa, direktur unit koordinasi Olimpiade di Chuo Tokyo.
Tantangan lain jelas datang dari publik sendiri yang hingga kini masih bersikeras mendesak menunda atau membatalkan pesta olahraga empat tahunan itu.