Sungai Zafri Zamzam dikenal juga dengan nama sungai Kerokan, artinya sungai yang dikeruk, dari data sungai Pemerintah Kota Banjarmasin, panjang sungai itu sekitar 682 meter, dengan lebar sekitar 23 meter.

Sungai di hadap Stadion sepakbola 17 Mei, kandang klub liga nasional Barito Putera berhadapan pula dengan RS Suaka Insan tersebut didesain menjadi objek wisata, siring sungainya diperbaiki dan ada taman, di mana sempat direncanakan akan ada pasar Terapung dibuat yang merupakan ikon wisata Kota Banjarmasin yang sudah mendunia.

Sementara itu sungai Antasan Bondan di Mantuil Banjarmasin Selatan juga bisa dikatakan masih berfungsi cukup baik, meski kondisi sungai sudah mulai dangkal.

Sungai yang dicatatan data Pemerintah Kota Banjarmasin sepanjang 715 meter itu dengan luas antara 5--37 meter memang sisi kiri dan kanan bantarannya sudah hampir rapat dengan rumah warga.

Sungai Antasan Bondan masih bisa dilalui kapal-kapal kecil atau istilah di Banjarmasin kapal sampan bermesin. Padahal dulu sungai tersebut juga bisa dilalui kapal cukup besar para pedagang.

Nasib yang sama juga dialami sungai Antasan Raden, sungai yang berada di Kelurahan Teluk Tiram, Banjarmasin Barat ini dari catatan data Pemerintah Kota Banjarmasin panjangnya 567 meter, luas hanya sekitar delapan meter.

Pemukiman warga yang berada di bantarannya juga terus membuatnya makin menyempit, jika dibiarkan terus demikian tidak mustahil akan tinggal nama.

Kanal tinggal sungai kecil

Selain sungai A Yani yang merupakan kanal peninggalan Belanda tersisa menjadi sungai kecil atau drainase, kanal di sepanjang jalan Sutoyo S atau sungai Teluk Dalam hampir sama nasibnya dengan sungai A Yani.

Kanal di Jalan Sutoyo S yang bermuara langsung ke sungai Barito tersebut dari data pemerintah kota, yakni, memiliki panjang 3.428 meter, dengan lebar 0--63 meter.

Sungai ini ada terlihat agak lebar hanya disekitar muaranya ke sungai Barito.