Disamping masalah sesungguhnya LPG 3 kilogram ini langka saat ini disebabkan terputusnya infrastruktur jalan dan jembatan diakibatkan banjir beberapa waktu lalu, sehingga distribusi dari Depot Mini Gas di Jembatan Barito ke SPPBE di Kabupaten atau Kota di Kalsel terpaksa lewat Landing Craft Tank (LCT) dengan rentang waktu yang lama.

Mobil tangki pengangkut gas LPG tidak bisa melewati jalan Gubernur Syarkawi yang rusak parah dan belum berfungsinya Jembatan Kayu Tangi yang sedang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Dan disatu sisi armada LCT yang mengangkut mobil gas Skidtank, juga harus menunggu air surut dan pasang di Muara Sungai Barito," katanya.

Sebagaimana diketahui, saat ini hampir merata di kabupaten dan kota di Kalsel masyarakatnya mengeluhkan kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi 3 kilogram, serta harganya pun sudah melambung dari Harga Eceran Terendah (HET) yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

Dari pantauan di lapangan LPG 3 kilogram dijual dan beredar di eceran dari harga Rp 27 ribu hingga di atas Rp 30 ribu.

Ada warga yang terpaksa membawa pulang gas tanpa isi ataupun terpaksa membeli dengan harga yang lebih mahal, kondisi ini diakui mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat begitu pun berimbas bagi pelaku usaha kecil. (ant)

Editor: Yayu Fathilal