WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Ducati Lenovo Team menggemparkan paddock MotoGP dengan keputusan berani mereka menyandingkan Francesco Bagnaia dan Marc Marquez dalam satu tim untuk musim 2025. Namun di balik euforia dan potensi kekuatan luar biasa, banyak pengamat mempertanyakan: apakah Ducati siap menghadapi risiko memiliki dua pembalap top dunia dalam satu garasi?
Sejarah Tak Selalu Bersahabat
MotoGP punya banyak contoh rivalitas panas antar rekan setim yang justru berujung konflik internal. Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di Yamaha, atau Andrea Iannone dan Dovizioso di Ducati sendiri, menjadi catatan sejarah bahwa dua ego besar sering sulit dikendalikan dalam satu tim.
“Dua pembalap top dalam satu tim ibarat dua matahari dalam satu langit. Tak mudah membuat keduanya bersinar tanpa saling membakar,” ujar jurnalis senior MotoGP, David Emmett.
Risiko: Persaingan Melewati Batas
Saat dua pembalap sama-sama memburu gelar juara dunia, risiko bentrokan terbuka, baik di lintasan maupun secara psikologis. Situasi ini bisa memecah tim, mengganggu fokus teknis, dan memperlambat pengembangan motor karena feedback yang saling bertolak belakang.
Ducati Pede Kelola Ego Duo Juara
Meski begitu, Manajer Ducati Davide Tardozzi yakin timnya telah belajar dari pengalaman masa lalu dan siap menghadapi tantangan ini. Ia menegaskan bahwa tim akan menerapkan kebijakan “equal treatment” untuk menjaga keseimbangan dan menghormati profesionalisme dua bintang mereka.







