Tanaman Pare dan Cabai Karno Mati Kekeringan, Petani Banjarbaru Perlu Sumur Bor
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Musim kemarau yang melanda dirasakan akibatnya oleh petani hortikultura di kawasan Jalan Pondok Bambu Kelurahan Loktabat Utara Kecamatan Banjarbaru Utara Kota Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Karno, yang sudah sekitar dua tahun mengelola kebun 1,5 hectare, harus berusaha keras melakukan penyiraman di tengah minimnya air.
"Tiap hari siram,” ujarnya saat ditemui di kebun, Jumat (18/9/2026).
Di lahan tersebut, Karno menanam sejumlah komoditas hortikultura, di antaranya kembang kol, cabai dan pare.
Baca juga: Petani Loktabat Utara Tak Tenang, Api Karhutla Terus Bergerak Mendekat
Baca juga: Tim Gabungan Polda Kalsel Padamkan 90 Persen Titik Api Karhutla Ring 1 Syamsudin Noor Banjarbaru
Namun, tidak seluruh tanaman mampu bertahan menghadapi kondisi kekeringan.
Tanaman pare sekitar seperempat hektare mati akibat kekurangan air.
“Pare itu enggak kuat, mati. Sekitar seperempat hektare,” katanya.
Kondisi serupa terlihat pada tanaman cabai.
Untuk memenuhi kebutuhan air, Karno bersama kelompok tani memanfaatkan sumur yang dibuat secara swadaya.
Oleh karena kebutuhan air yang tinggi, biaya dan beban pengelolaan kebun pun meningkat.
Di sisi lain, pendapatan petani justru mengalami penurunan.
“Iya sangat berkurang. Ini untuk bertahan hidup saja,” ungkapnya.
Karno mengatakan seluruh biaya pengelolaan kebun selama ini masih mengandalkan modal sendiri.
Ia mengaku belum mendapatkan bantuan pemerintah yang secara langsung mendukung kebutuhan usaha tani hortikultura tersebut.
“Enggak ada sama sekali bantuan dari pemerintah. Semuanya modal sendiri,” ujarnya.
Menurut Karno, bantuan yang paling dibutuhkan petani saat kondisi kemarau seperti sekarang adalah fasilitas sumber air, khususnya sumur bor.
Selain itu, petani membutuhkan bantuan sarana produksi seperti mulsa dan pupuk.
Harga mulsa plastik hitam-perak, kata dia, saat ini mengalami kenaikan.
“Biasanya Rp600 ribu, sekarang Rp900 ribu per gulung,” katanya.
Karno juga menyampaikan persoalan lain yang dihadapi petani di kawasan tersebut.