Saat hujan, air justru berpotensi menggenangi kawasan kebun karena tidak tersedia gorong-gorong yang memadai untuk mengalirkan air menuju sungai.

Ia mengaku sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan saluran air melalui proposal, namun hingga kini belum terealisasi.

“Sudah beberapa kali bikin proposal, tapi enggak ada pelaksanaan. Andai dikasih saluran ke sungai sana, aman,” tuturnya.

Menurutnya, pembangunan drainase atau gorong-gorong diperlukan agar kawasan tersebut tidak mengalami persoalan berbeda antara musim kemarau dan musim hujan.

Di tengah kondisi tersebut, Karno berharap hujan segera turun sehingga tanah kembali mendapatkan pasokan air dan sumber air bagi kebutuhan pertanian dapat bertambah.

“Ya mudah-mudahan hujan ini segera datang. Walaupun hujan buatan, enggak ngaruh, yang penting basah tanahnya, menambah sumber air,” harapnya.

Bagi Karno, air menjadi kebutuhan utama untuk mempertahankan kebun dan penghasilan keluarga. Ketika sumber air berkurang, tanaman yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi petani pun ikut terancam.

Musim kemarau, katanya, bukan hanya membuat petani harus bekerja lebih keras menyiram tanaman, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen dan menekan pendapatan. (wartabanjar.com)