WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Pengurangan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir PM Noor Riam Kanan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dinilai akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tepat untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketersediaan air di tengah musim kemarau panjang.

Namun, tindakan tersebut tetap perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan cadangan air tetap aman apabila kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Dosen ULM sekaligus pengamat tata kota, Dr Eng Akbar Rahman, mengatakan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat harus tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan Waduk Riam Kanan.

“Pengurangan operasional PLTA Riam Kanan merupakan langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketersediaan air selama kemarau panjang. Pemenuhan air baku masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026). 

Baca juga: PLN Pelaihari Terapkan Pemadaman Bergilir, Sistem Kelistrikan Tanah Laut Normal Pekan Keempat September

Video: 22 Korban Kapal Virgo Dievakuasi, Sempat Terkendala Cuaca

Akbar menilai pengelolaan cadangan air perlu didukung perhitungan yang lebih rinci untuk menentukan batas bawah atau kondisi kritis waduk.

Perhitungan tersebut, kata dia, tidak cukup hanya melihat tinggi muka air. 

Volume air efektif, perkiraan aliran masuk, penguapan, kebutuhan air baku, kebutuhan lingkungan, operasional pembangkit hingga kemungkinan kemarau terburuk juga perlu diperhitungkan.

“Langkah ke depan perlu didukung perhitungan yang lebih rinci mengenai batas bawah atau batas kritis waduk,” katanya.

Dengan perhitungan tersebut, pengelola dapat mengetahui kapan harus mengambil langkah lebih lanjut apabila cadangan air terus mengalami penurunan.

Akbar juga mendorong adanya beberapa tingkatan kondisi waduk yang memiliki batas terukur serta tindakan berbeda pada setiap level.

Misalnya kondisi normal, waspada, siaga hingga kritis. 

Setiap perubahan kondisi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan pola operasi pembangkit maupun pengelolaan distribusi air.