Baiguan sendiri bukan satu-satunya perusahaan yang melihat peluang dari meningkatnya minat terhadap teknologi China.

Perusahaan tur teknologi asal Shanghai, Glopen, misalnya, mencatat jumlah permintaan terhadap tur teknologi di China meningkat 50 persen sepanjang 2026. 

Glopen kini menggelar lebih dari 100 tur perusahaan, dalam format kunjungan satu hari setiap bulannya. Sebagian besar pelanggannya berasal dari Eropa dan Singapura.

Sementara investor keturunan China-Amerika, Rui Ma, juga telah menggelar 11 tur serupa sejak 2019 melalui platform Tech Buzz China. 

Program tersebut antara lain membawa peserta, untuk melihat perkembangan robotika dan teknologi baru di sejumlah kota di China.

Bagi Ma, kunjungan langsung menjadi bagian dari proses due diligence, alias pemeriksaan atau penilaian secara menyeluruh sebelum seseorang mengambil keputusan bisnis. 

Pasalnya, perusahaan China semakin mungkin ditemui sebagai pesaing, mitra, pemasok, maupun target investasi di berbagai negara.

Fenomena belajar teknologi di China ini tidak hanya terjadi pada program tur khusus investor. 

Sejumlah perusahaan teknologi China juga membuka fasilitas mereka untuk dikunjungi masyarakat, maupun tamu dari luar negeri. 

Salah satunya adalah pabrik mobil listrik Xiaomi di Beijing. Fasilitas tersebut telah dikunjungi lebih dari 250.000 orang sejak Maret 2024. 

China sendiri telah menetapkan lebih dari 140 lokasi, sebagai situs percontohan wisata industri.

Sejumlah pabrik bahkan menawarkan kunjungan kepada masyarakat dengan biaya sekitar 60 dollar AS atau sekitar Rp1 jutaan. 

Meningkatnya minat tersebut menunjukkan, bagi sebagian investor dan pelaku bisnis, melihat langsung proses pengembangan dan produksi teknologi, menjadi cara untuk memahami perkembangan industri China. 

Terlebih, China kini menjadi salah satu pemain besar dalam industri kendaraan listrik, baterai, AI, dan robotika.

Meski demikian, investor Tech Buzz China, Louis Ma mengingatkan agar perkembangan teknologi China tidak dibesar-besarkan. 

"Sebab, di bidang teknologi, perusahaan non-China masih menguasai sebagian besar pangsa pasar global, memiliki kekayaan intelektual (IP) paling maju, dan menghasilkan keuntungan terbesar dari bidang ini," pungkas Ma. (Wartabanjar.com)